Kamboja putih bergugur tersilir sepoi angin sore itu. Aku terdiam di depan pusara putih. Tanah bergunduk terlihat baru, bertabur tujuh rupa bunga.

Aroma wangimu tercium hingga buatku nanar.

“Sayang, apa kau nyenyak di sana?” kuelus patok putih bertulis hitam itu dengan lembut.

“Apa kau bahagia?”

“Tanpaku…”

Rinai tipis gugur merupa warna hatiku. Mengalir ke pipi, bertemu air mataku yang sesaat pecah.

“Aku harus bagaimana sekarang? Katakan…” kepalaku tertunduk. Aliran air terus menetes dari ujung hidungku. Menuju celah kecil pada gundukan tempatnya tidur abadi.

“Aku belum siap untuk berpisah secepat ini…” Tangisku kian keras menggema di pemakaman yang mulai gelap.

Semilir mendayu menghampir di ruang dengarku.

“Teruskan hidupmu. Bahagiakan wanita itu. Bahagianya, bahagiaku” lirih aku mendengar suaranya. Dari ujung gelap sana.

“Sayang! Kau kah itu? Kau di mana?” aku berjingkat bangkit, berlarian menuju sumber bunyi.

“Kau di mana? Sekali saja aku ingin melihatmu!” aku berteriak berhambur menembus semak sambil terus sesegukan.

“Bahagialah…” suara itu mulai mengilang.

Aku bersimpuh basah. Suaraku kian hilang. Pandanganku temaram. Badanku dingin membiru. Membatu dengan dada berpilu.

Sesaat aku terdiam sebelum akhirnya merangkak. Menuju pusara putih itu. Roboh di sampingnya.

“Baiklah, aku akan mencoba bahagia dengan caramu” mataku sembab tak terbendung lagi banyaknya air mata yang mengalir.

“Aku akan mencoba mencintai wanita itu. Adik kesayanganmu.”

“Bahagialah kau disana, my soulmate…”

Aku bangkit pelan. Mencium pusara bertulis indah namanya. Satriya Wijaya. Nama yang lama tergores di ruang rinduku. – (230)