Search

Adi Nugroho

Read and Write 'til DIE

Month

February 2012

Bulan Biru

Tanganku masih menggenggam sobekan kertas putih. Bertinta merah darah. Mataku mengatup berleleh embun asin yang mengalir ke pipi. Serta badan polos penuh sayat mengering. Meringkuk pada bebatuan cadas kaki bukit.

Di sampingku, ada seonggok raga kosong. Mati. Membiru perlahan bersama dengan membekunya alam. Terlihat kilasan senyum perdu yang kelu.

Aku berjalan mendekatinya. Membelai rambut urai indahnya. Bibir mungil yang dulu merekah. Pipi rona jingga yang nyaris aku gigit jika melihatnya. Beku. Kini semua pucat pasi.

“Nir, apa kau dengar aku?” beberapa kali aku membisik lirih. Berkali juga tiada jawab. Bau busuk pun tidak.

Continue reading “Bulan Biru”

Ladang Merah Jambu

sekelebat berkas menepi
indah rupa yang kembang
sengaja berpendar di dagu

luluh aku sampai pijar
kumpul di ubun hingga pecah
hasrat
menitik gerimis lalu luber
angan pula mengepak

iyakah jiwa ini
hinggap pada ranah
ladang merah jambu

One More Chance

Terik masih membakar kulitku. Peluhku terasa mengucur. Sangat deras. Sang surya begitu betah di posisi tengah. Seperti terikat, erat. Melihatku yang sedari terbit tak henti mengayun kapak. Menebang beberapa pohon. Jalanku bertemu denganmu.

Ada gurat-gurat darah di tanganku. Perih sungguh. Memar berjajar pada lengan seperti deretan biru. Pandanganku kadang kabur, bahkan gelap sesaat. Nafasku tersengal, beberapa kali sesak menyempitkan dadaku. Sakit. Semua ini sangat menyiksaku.

Seberapa sakit lagi, agar hati ini termaafkan?

Iyakah hingga nyawa itu tercabut?

Continue reading “One More Chance”

Upeti Raja

Nafasku tersengal. Kembang kempis terasa mau habis. Mataku kabur, temaram kian gelap. Tubuhku terasa sangat limbung. Ringan seperti kapas. Terasa ada aliran energi yang melemparku hingga melesat.

Braakkk…

Aku terjatuh pada suatu ruangan. Sangat terang. Ada banyak pria memakai jas rapi. Semua tersenyum melihatku. Ada yang bertepuk tangan juga.
Continue reading “Upeti Raja”

Up ↑