Search

Adi Nugroho

Read and Write 'til DIE

Month

December 2011

Skripsi ke-2

Siapa sih mau mengulang skripsi lagi? Berkutat dengan laptop dan buku tebal untuk kajian pustaka. Mata dengan garis hitam tebal dan kadang rambut acak-acakan. Makanpun tak enak dan tidur tak nyenyak.

Saya sedang mengalami itu.

Apa Adi gagal skripsi?
Tidak saya malah sudah wisuda.

Mungkinkah Adi sedang membuat Thesis?
Mikir mau daftar S2 masih cenat cenut. Apalagi bidang matematik. Ampun S1 rasanya sudah membuatku kualahan.

Lalu apa dong Adi?
Mau tahu kenapa? Beneran? Yakin? Baiklah saya ceritakan.
Continue reading “Skripsi ke-2”

Sehidup Semati

Purnama satu terlihat mengintip di balik gegunung yang berpeluk. Mengerlingku yang terdiam memainkan jariku di alir kecil sungai. Air memercik dan menimbulkan bunyi letup.

Aku duduk di atas batu kali yang besar. Ekor mataku menebar kepenjuru sawah yang terlihat meriah dengan gemerlip kunang. Dingin sang bayu tak aku gubris saat dengan lembut melompat di tengkuk.

“Erlina! Kau kenapa?” suaranya masih saja bergeming di ujung rongga telingaku.

“Erlina! Kenapa kau menjauhiku kawan?” hatiku mendesir memutar lagi rekaman suaranya. Begitu jelas. Nyata berdengung.

Rasanya hatiku tersayat ratusan silet. Perlahan dan pasti melelehkan darah hatiku yang sudah kering. Bertahap membuatku membusuk dengan terus berharap dan merindunya.

“Dasar bedebah! Kenapa kau selalu ada untukku! Enyahlah kau dari hidupku!” teriakku menggema di gelap yang memakanku utuh.

***

Continue reading “Sehidup Semati”

Kepak Laron

Aku berlari dan berhambur bersama kawanan laron di bawah guyuran gerimis. Setitik cahaya kecil berselimut gelap tempat kita bercengkerama. Menyerap dingin dari rinairinai yang terlihat memberkas pelangi.

“Darmo!” teriak tuan laron kecil yang hinggap di pundakku.

Aku mengerling melihat hewan kecil bermahkota. Sayap tipis berajut sutra mengepak lemah.

“Iya tuan ada apa?” jawabku sambil duduk di bawah cahaya lampu dan bersila.

Tuan laron terlihat menggosok kakinya pada bajuku. Matanya berkedip cepat seirama dengan hembusan nafasku. “Darmo! Apa kau tahu? Kalau aku ini ningrat?” katanya terdengar sombong.
Continue reading “Kepak Laron”

Tersilir Ingat-Mu

daundaun itu hambur terarah,

lepas dari lekat hitam,

mengudara ringkih,

tersilir Ingat-Mu,

Adjavas, 0811

Aku Hanya Dula

: Karena aku hanya dula¹ yang mengiba pada pucat cempaka

—————————–
Continue reading “Aku Hanya Dula”

Up ↑