Masih teringat kala itu. Saat kau memekik sumpah setia. Merdu suaramu masih terngiang sampai sekarang. Ya, janji pesolek cantik yang merontokkan hatiku.

“Kau? Apa yang kau lakukan dengan berandal itu di sini?” aku terkaget melihat wanitaku melenguh nikmat ditindih pria tak ku kenal.

“Tentu saja mencari kenikmatan” jawab wanitaku renyah. Membungkus tubuhnya dengan handuk.

Aku terdiam hampir membatu. Mataku panas, dadaku mendidih.

“Kau? Beraninya melakukan ini” bentakku kasar. Aku lempar buket bunga hadiah ulangtahunnya.

“Buat apa aku bersolek cantik. Bertubuh sintal jika kau tak menyentuhku. Bahkan aku curiga kau tak bernafsu denganku” balasnya sinis.

“Ternyata kau sehina anjing” umpatku kesal dan berbalik dan berjalan cepat.

Wanita itu mengejarku. Mendorongku hingga jatuh di lantai. Dengan santai dia menaiki tubuhku. Berusaha menodaiku. Aku bergetar. Takut.

“Aku pergi” sekuat tenaga aku dorong wanitaku itu.

“Dasar homo!!!” teriaknya keras sambil menangis.

Bahkan julukan homo masih teramat baik buatku. Menjaga kehormatan diriku lebih nikmat ketimbang menyetubuhinya. Aku masih makhluk beradab dan tau beragama. – (158 kata)