Lebam memenuhi mukaku. Mata panda, bibir sobek dan bengkak sekujur tubuh. Aku masih kuat Yah setelah ini. Kau bunuh pun jiwaku masih akan hidup. Biarkan aku begini, hidup dengan jati diri tanpa topeng hipokrit.

“Anak sialan, bukan takdirmu bersolek dengan gincu merah. Lihat!! Kau itu pria!!” Ayah menarikku ke depan cermin. Mengambil gincu dan mencoreng mukaku pada cermin. Lalu meninjunya hingga pecah.
Continue reading “Gincu Merah”