Setiap 2 mei diperingati secara nasional sebagai hari pendidikan nasional. Hari besar bagi para pendidik di seluruh Indonesia. Yang biasanya diperingati dengan upacara bendera. Atau acara seminar-seminar pendidikan.

Melihat pendidikan di Indonesia sebenarnya sangat miris. Tidak usah saya bahas lagi, karena memang sudah seperti lagu lama. Yang punya uang banyak akan mendapatkan kualitas pendidikan yang prima. Dan jika dengan modal pas-pasan sekolah dengan fasilitas seadanya.

“jer basuki mawa bea”
saya pernah mendengar itu dari guru SMA saya. Jika segala sesuatu membutuhkan biaya. Tidak ada yang namanya gratis.

Inovasi inovasi dalam pendidikan sudahlah berkembang pesat. kurikulum pun terus berganti ganti, enath sekarang memakai kurikulum apa. Sekolah berembel embel SBI sudah seperti padang jamur di musim penghujan. Banyak sekali, bahkan dari pelosok sampai pusat kota.

Namun, apakah cuma proyekan SBI saja, penyerapan dana sebesar besarnya tanpa dibarengi SDM yang berkualitas. Saya sendiri sudah mengamati beberapa SBI di malang, dan ssebagian besar sepertinya cuma proyekan diknas setempat. Pasti akan terkesan hebat jika di suatu kota semua sekolah sudah berplat SBI

Sungguh ironis, kalangan intelektual berlomba lomba dengan inovasi. Tapi tetap kalangan bawah merana. Tidak ada pendidikan yang layak seperti tercantum di UUD. Semua hanya manis manis di bibir saja. Tindakan nyata zero.

Melihat anak kecil mengamen, di kereta, di pinggir jalan. Membuat saya merenung, bukankah mereka itu generasi penerus bangsa. Jika mereka mengemis seperti itu, apa bangsa kita nantinya tidak akan menjadi bangsa pengemis?

Pernahkah sahabat blogger membaca atau melihat serial anime NAruto. Di situ dikisahkan jika mereka harus melindungi “KING”. Siapa sebenarnya si KING itu? Itu adalah anak kecil, generasi selanjutnya dari negara itu.

So, apakah kita mampu melindungi KING kita?

Salam Pendidikan!
Salam Blogger!