Tubuhku tiba-tiba lemas dan menggigil. Aku berteriak kepada ibuku, “bu, badan adi menggigil, kening panas tetapi kaki aku dingin seperti es”. Dengan padangan yang sudah kabur dan berkunang-kunang aku menjadi seperti mengigau (kata ibu begitu). Terucap kata-kata ngawur dari ujung bibirku, yang aku sendiri tidak sadar telah mengucapnya.

Itulah saat pertama aku terjangkit yang namanya DBD atau Demam Berdarah Dengue. Penyakit yang mematikan, akibat virus dengue yang disebarkan nyamuk Aedes Aegepty. penyakit yang membuat kadar trombosit dalam darahku menurun drastis, serta memerosotkan imunitas tubuhku.

Dengan sangat sigap ibu menghubungi seorang Bidan desa, seorang kenalan ayah. Bu bidan sangat cekatan memeriksa apakah ada tanda-tanda jika aku terjangkit yang namanya DBD. Dengan menggunakan tensimeter beliau memberikan tekanan pada lengan dan siku, sehingga nantinya muncul bintik merah. Dengan belum yakin beliau menggunakan senter kecil untuk benar-benar memastikan jika aku suspect DBD.

Dengan sangat berat hati akhirnya akupun dirujuk ke Puskesmas Talun, dengan fasilitas rawat inap yang jauh lebih baik dari kelas 3 RSD. Dengan cekatan saya disambut perawat jaga, yang langsung memeriksa aku. Langsung sampel darahku diambil untuk di periksa. Kebetulan Puskesmas tersebut sudah memiliki laboratorium mini.

Beruntunglah saya, 3hari perawatan aku sudah bisa pulang dengan bugar. Ditunjang dengan nafsu makan saya yang tidak berubah sedikitpun saat sakit. Dari sini saya bersyukur kalau saya termasuk orang yang gampang makan, hehe.

Selang tiga tahun kejadian tersebut, dua anggota keluargaku terkena DBD. Dan sepupu yang masih berumur empat tahun berpulang ke rahmatullah. Inilah revolusi dalam hidupku yang sangat besar, bahkan lingkungan sekitarku. Akibat pandemi ini, sekitar 15 orang warga desaku terkena DBD. Dengan satu korban nyawa, yaitu adikku yang cantik dan pintar ini.

Selang sebulan setelah kejadian ini, aku semakin menjaga kebersihan kamar dan sekitar. Aku sendiri orangnya malas jika harus menyapu atau bersih-bersih, jujur ini ceritanya. Jadi biasanya berteriak-teriak meminta adik untuk membersihkan kamarku. Tapi setelah kejadian itu aku jadi mau bersih-bersih kamar, terlebih aku mulai kos. Siapa yang akan membersihkan kamar kos ku? Masa aku mau memboyong adikku? Hehe, kan tidak mungkin.

Disamping itu, lingkungan sekitarku juga menjadi berubah. Setiap selapan dino ( sebulan kalender jawa, 35hari) diadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan rumah dan sekitar. Bukannya sombong atau tamak, walau lingkunganku kecil, cuma 2 RT. Tapi selalu menang lomba kebersihan setiap Agustus.

Apa yang saya petik dari kejadian ini. Aku harus rajin bersih-bersih, menjaga daya tahan tubuh, jangan sampai penyakit ini menjangkiti aku lagi. Sudah cukup sepupu kesayanganku jadi korban. AKU INGIN SEHAT! Jangan sampai ada lagi. Ingat 3M ! Waspada dengan musim pancaroba sekarang, rawan sekali DBD!

Salam hangat!

——————————————

Tulisan ini di ikutkan dalam kontes AKU INGIN SEHAT yang diadakan oleh blognya mbak kakaakin. Semoga memberikan pelajaran bagi semuanya. Amin.