Search

Adi Nugroho

Read and Write 'til DIE

Tag

cinta

Bulan Biru

Tanganku masih menggenggam sobekan kertas putih. Bertinta merah darah. Mataku mengatup berleleh embun asin yang mengalir ke pipi. Serta badan polos penuh sayat mengering. Meringkuk pada bebatuan cadas kaki bukit.

Di sampingku, ada seonggok raga kosong. Mati. Membiru perlahan bersama dengan membekunya alam. Terlihat kilasan senyum perdu yang kelu.

Aku berjalan mendekatinya. Membelai rambut urai indahnya. Bibir mungil yang dulu merekah. Pipi rona jingga yang nyaris aku gigit jika melihatnya. Beku. Kini semua pucat pasi.

“Nir, apa kau dengar aku?” beberapa kali aku membisik lirih. Berkali juga tiada jawab. Bau busuk pun tidak.

Continue reading “Bulan Biru”

Dengan Caramu

Kamboja putih bergugur tersilir sepoi angin sore itu. Aku terdiam di depan pusara putih. Tanah bergunduk terlihat baru, bertabur tujuh rupa bunga.

Aroma wangimu tercium hingga buatku nanar.

“Sayang, apa kau nyenyak di sana?” kuelus patok putih bertulis hitam itu dengan lembut.
Continue reading “Dengan Caramu”

Sehidup Semati

Purnama satu terlihat mengintip di balik gegunung yang berpeluk. Mengerlingku yang terdiam memainkan jariku di alir kecil sungai. Air memercik dan menimbulkan bunyi letup.

Aku duduk di atas batu kali yang besar. Ekor mataku menebar kepenjuru sawah yang terlihat meriah dengan gemerlip kunang. Dingin sang bayu tak aku gubris saat dengan lembut melompat di tengkuk.

“Erlina! Kau kenapa?” suaranya masih saja bergeming di ujung rongga telingaku.

“Erlina! Kenapa kau menjauhiku kawan?” hatiku mendesir memutar lagi rekaman suaranya. Begitu jelas. Nyata berdengung.

Rasanya hatiku tersayat ratusan silet. Perlahan dan pasti melelehkan darah hatiku yang sudah kering. Bertahap membuatku membusuk dengan terus berharap dan merindunya.

“Dasar bedebah! Kenapa kau selalu ada untukku! Enyahlah kau dari hidupku!” teriakku menggema di gelap yang memakanku utuh.

***

Continue reading “Sehidup Semati”

Tuhan, pantaskahkah aku hidup?

Hahahaha…

Aku tertawa sangat lepas. Mengecap detik demi detik lelehan darah yang mengalir dari ujung jidatku. Bau anyir masih semerbak dari lendir yang hampir hitam dan mengering. Menyisakan sedikit asa dari ruang terdalam palung hatiku. Tuhan, apakah aku masih kau inginkan hidup?
Continue reading “Tuhan, pantaskahkah aku hidup?”

Curhat anak

Yah, mentari bersinar indah seperti biasanya. Indah dipenuhi berkas kimilaun begitu mengagumkan. Kala itu aku termenung di depan teras rumahku. Menyerap energi alam pagi yang menyehatkan. Dalam semilir sejuk angin pagi.
Continue reading “Curhat anak”

Up ↑