Judul: All the Bright Places
Penulis: Jenniver Niven
Penerbit: Knopf
Terbit:  06 Januari 2015
Tebal: 388 halaman
Genre: Young Adult Realistic
Waktu Baca: 6,5 jam

Blurp

Theodore Finch is fascinated by death, and he constantly thinks of ways he might kill himself. But each time, something good, no matter how small, stops him.

Violet Markey lives for the future, counting the days until graduation, when she can escape her Indiana town and her aching grief in the wake of her sister’s recent death.

When Finch and Violet meet on the ledge of the bell tower at school, it’s unclear who saves whom. And when they pair up on a project to discover the “natural wonders” of their state, both Finch and Violet make more important discoveries: It’s only with Violet that Finch can be himself—a weird, funny, live-out-loud guy who’s not such a freak after all. And it’s only with Finch that Violet can forget to count away the days and start living them. But as Violet’s world grows, Finch’s begins to shrink.

ReviewKehidupan remaja terkadang lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Terlebih pada usia pencarian jati diri, usia yang rentan terhadap tekanan dari banyak pihak. Salah satunya adalah tekanan batin yang akan terus diingat, dan menjadikannya seperti momok yang menakutkan. Bahkan jika sampai pada fase yang lebih tinggi, seorang anak bisa saja melakukan tindakan bunuh diri agar dia merasa bebas dan tidak punya beban.

,

Tersebutlah seorang Theodore Finch, anak yang bisa dikatakan selalu membuat keributan di sekolah. Bahkan sampai dijuluki Theodore Freak oleh temannya. Finch melakukan riset tentang bunuh diri yang akan dia lakukan. Dia berdiri di tower bel dan berusaha membayangkan bagaimana jika dia jatuh dengan melompat. Apakah akan langsung mati? Sakit apa tidak? Saat dia banyak berpikir mendadak muncul Violet Markey yang dengan santai berjalan mendekati pinggir tower secara tidak sadar (seperti seorang frustrasi yang mendadak ingin bunuh diri). Awalnya ingin bunuh diri malah FInch menolong Violet yang akan jatuh. Tapi berita yang beredar dari kejadian ini adalah Violet menolong Finch yang akan bunuh diri. Terbalik, yah karena Violet termasuk hot girl di sekolah jadi berita ini jauh lebih bisa dipercaya.

Singkat cerita Finch jadi terobsesi dengan gadis ini sehingga dia meminta Violet jadi teman dalam penjelajahan dalam proyek Geografi. Di sinilah mulai timbul sebuah ikatan yang bisa dibilang romansa mungkin tapi dari kedua belah pihak masih denial. Violet belajar banyak dari ketidaknormalan Finch dalam berpikir dan dia jadi mulai memikirkan dirinya (Violet punya kakak yang mati tabrakan dan hal ini membuat Violet merasa bersalah hingga akhirnya muncul kejadian tower bel).

Plot berkembang akhirnya Finch menyatakan jika dia suka dengan Violet bahkan dari pihak Violet juga. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama sampai Finch mencoba bunuh diri dengan menelan pil obat tidur tapi kematiannya gagal karena begitu mendapati tubuhnya mula aneh Finch segera berlari ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan. Oleh dokter Finch disuruh ikut grup bimbingan dimana isinya orang yang punya tekanan mental. Dokter menyebut Finch memiliki OCD atau gangguan kepribadian ganda.

Seorang teman dekat Violet mengatakan jika dia melihat Finch di grup bimbingan kejiwaan. Hal ini membuat Violet takut dan akhirnya menemui Finch. Di sinilah yang menurut saya bagian terbagus dari novel ini. Violet mengatakan jika Finch bisa menyelamatkan nyawaku kenapa aku tidak? Violet ingin menyelamatkan nyawa Finch tapi Finch hanya merespon biasa. Di sinilah mulai terungkap kejadian di masa lalu yang membuat banyak trauma pada Finch terus menebal.

Akhir ceritanya. Yah, sudahlah. Yang jelas, novel ini berdasar pengalaman pribadi penulisnya sendiri. Dan menurut saya ditulis dengan sangat detail dan indah terlepas dari beberapa konten yang bagi orang Indonesia mungkin di luar jalur.

Secara garis besar, novel ini sangat menginspirasi, dark, indah, seperti nyata.

Rating

Sempurna. 5/5. Saya selalu suka novel yang apa adanya.