Judul: We Were Liars
Penulis: E. Lockhart
Penerbit: Delacorte Press
Terbit:  13 Mei 2014
Tebal: 227 halaman
Genre: Young Adult Realistic
Waktu Baca: 5,5 jam

Blurp
A beautiful and distinguished family.
A private island.
A brilliant, damaged girl; a passionate, political boy.
A group of four friends—the Liars—whose friendship turns destructive.
A revolution. An accident. A secret.
Lies upon lies.
True love.
The truth.
Review

Saya membaca novel ini karena Goodreads memilihnya sebagai pemenang kategori YA fiction pada ajang tahunan choice award tahun 2014. Dilihat dari rating cukup tinggi, saya memiliki kecenderungan membaca buku yang mendekati rating 4 atau lebih dari itu. Tapi bukan berarti buku dengan rating di bawah 4 tidak bagus. Contohnya buku-buku karya Haruki Murakami yang susah menyentuh 4 tapi toh ceritanya membuat saya jatuh cinta padanya.Ok kembali ke topik yang sebenarnya.We Were Liars bercerita tentang tokoh utama bernama Cadence Sinclair Eastman (Cady). Gadis cantik dari keluarga yang bisa dibilang ningrat. Kakek dari Cady memiliki pulau pribadi dan membangun tiga rumah untuk tiga anak perempuannya. Saking banyaknya uang, kakek Cady sampai bingung mau dibuat apa uangnya. Bahkan akan menyumbangkannya ke kampus besar biar namanya bisa dikenang jadi nama gedung yang kelak dibangun dengan uangnya.

Setiap musim panas Cady akan menghabiskan hari liburnya di pulau yang bernama Beechwood. Di pulau ini Cady harus selalu terlihat baik terutama di mata kakeknya. Terlalu banyak aturan. Menjadi cucu orang kaya bukan jaminan orang bisa bahagia. Untunglah Cady selalu ditemani oleh sepupunya Johnny dan Mirren. Serta seorang pemuda yang membuatnya jatuh cinta, Gat, pemuda India yang sangat filosofis.

Keempatnya selalu membuat ulah di pulau hingga membuat merela dijuluki Liars.

Konflik utama dari novel ini adalah saat Cady tidak bisa mengingat kejadian sebelum dan saat tragedi mengenainya. Cady mengalami tauma hingga dia amnesia. Setiap hari dia selalu melupakan sesuatu hal yang ibunya ceritakan. Dua tahun berlalu Cady perlahan-lahan mulai mengingat apa yang sebenarnya terjadi di musim panas dua tahun lalu.

Tentang cintanya dengan Gat yang tidak direstui, tentang persaudaraan dengan Mirren dan Johnny, tentang keluarga yang selalu ribut masalah uang, tentang kakek yang bak seorang raja, tentang ciuman hangat, tentang amplop penuh mawar merah muda kering, tentang anjing-anjing yang bodoh tapi menggemaskan, tentang melawan rasa takut, tentang pemurnian, tentang api musim panas yang melenyapkan semuanya, tentang kehilangan yang datang saat semuanya kembali, tentang seorang anak yang menderita migrain hampir setiap hari.

Menurut saya novel ini unik dan apa adanya, terutama mendeskripsikan hubungan persaudaraan, percintaan remaja, kebohongan kecil yang selalu dipercayai dan tentu saja ending yang mempontang-pantingan segalanya. Saya mengerutkan dahi pada subbuku yang berjudul Thruth pada novel ini.

Lagi-lagi kebenaran selalu membawa kepedihan.

Sebuah mitologi tentang keluarga yang gelap.

Rating

Saya memberi rating 4/5 dari kejeniusan E. Longhart membuat saya tercabik-cabik dengan ceritanya. Plot benar-benar lembut dan tokohnya benar-benar hidup. Saya tidak menebak sama sekali jika pada akhirnya ending berkata begitu. Sudahlah.