image

“Menurutmu, mending jadi maling apa jadi homo?”

Joko mengernyit. Menatap jijik ke arahku. “Mending jadi maling.”

“Lha? Emang maling nggak dosa?”

“Masa jadi homo? Nggak ada pilihan yang lebih banyak?”

Aku menggeleng.

Joko masih nampak berpikir saat kami tiba di depan kios bu Juriyah. Beliau langsung hambur dan mengoceh banyak-banyak begitu kami datang. Katanya, nyaris dua bulan kami nggak datang.

“Yang naik harganya apa, Bu?”

“Cabe harganya kayak setan!”

“Setan saja nggak doyan cabe!” Sahutku duduk di kursi yang sengaja disediakan bu Juriyah.

Joko terlihat bercakap-cakap dengan bu Juriyah. Setelah sepuluh menit aku nyaris pusing karena lalu-lalang tukang becak, Joko menghampiriku dengan membawa kantong besar warna hitam.

“Makasih, Bu!”

“Sering mampir ya, biar aku laris!” Aku mengangguk dan segera meninggalkan kerumunan.

Joko berjalan dengan lebih cepat di depan. Sejak meninggalkan bu Juriyah dia lebih banyak diam.

“Jadi milih jadi maling apa homo? Apa sekalian copet dan koruptor?”

“Milih jadi Joko saja.”

Aku terkekeh lalu berjalan cepat untuk menyusulnya. Beberapa pedagang masih berteriak-teriak menawariku sandal, sepatu, bahkan mangga.

Aku berhasil menyusul Joko yang berjalan memutar di sela-sela pedang buah.

“Menurutmu jadi maling salah?”

Joko mengangguk.

“Jadi Homo?” Aku merangkul Joko dan dia ingin berlari.

Joko mengangguk.

“Jadi koruptor?”

“Tentu saja. Sudah jangan gila. Lepakan tanganmu!”

Aku tak lepaskan. Joko berontak lalu lari.

Salah atau tidak itu relatif. Manusia bisa jadi dua hal berkebalikan dalam waktu yang bersamaan.

Ada maling yang mencari duit agar anaknya bisa sekolah.

Ada koruptor yang juga memberikan sumbangsih bagi negri ini.

Ada bu Juriyah yang jual sayur untuk membantu suaminya yang cacat. Sekaligus jual miras yang sebentar lagi akan aku habiskan dengan Joko.

Ada aku yang menyukai Joko tapi juga mendukungnya untuk segera melamar adik perempuanku.

“Joko tunggu!”

Dia masih berjalan tanpa menoleh. Aku bergeming menatap punggungnya yang bidang kian hilang dari ekor mataku.

Manusia itu monster!

Aku monster! [°]

Tabik,
@ADjavas

°) Terinspirasi setelah membaca A Monster Calls karya Patrick Ness.