image

Paijo sudah berpikir masak tentang kepergiannya esok hari ke pantai. Lintang akan mengantarnya. Karena di gerombolan pengamen ini hanya dia yang tahu jalan.

“Kau yakin dengan itu semua? Jangan mimpi aneh-aneh. Lebih baik hafalin lagu yang lagi ngetren di TV agar dapat duit lebih banyak.”

“Nggak, pokoknya besok aku harus pergi.”

“Terserah, kalau mati jangan kembali lagi.”

Paijo mengangguk. Lalu keluar untuk melihat langit yang pekat. Besok adalah hari yang bisa merubah semuanya.

***

Turun subuh Paijo berangkat dengan Lintang. Ngamen sebentar di bus sembari numpang gratis hingga ke Pantai.

Pagi ini cuaca cerah. Laut tenang meski ombak langsung menyambut Paijo dan Lintang saat sampai bibir pantai.

Tidak ada orang di sini. Karena belum banyak yang tahu. Masih belum diperawani hingga masih asri. Tak ada sampah atau jejak kaki di pasir.

“Kau yakin?”

Paijo mengangguk.

“Jangan gila.”

“Lebih baik gila daripada miskin.”

Lintang duduk di pinggiran. Sementara Paijo mulai berjalan menuju tengah. Perlahan-lahan di terjang ombak. Dia tak menyerah. Masih ke tengah.

***

“Jangan menganggap dongeng itu nyata, Bro! Memangnya Air itu ada? Kalaupun ada apa gunanya hidup nggak bisa mati. Kita mau hidup seribu tahun juga tetep saja miskin.”

“Aku cuma mau buat kita semua terus hidup, agar bisa merubah nasib. Masa iya hidup ribuan tahun tetap miskin?” Paijo terus berargumen.

“Emangnya anak pejabat? Bapaknya mati tetep kaya? Mereka enak, duit banyak walau hasil ngutil di kas negara. Lha? Kita? Sudah jangan ngayal!”

Paijo tak peduli. ” Pokoknya akan aku cari. Titik.”

***

Lintang pulang sendiri dan menganggap Paijo sudah pergi tak kembali. Semuanya tahu kalau Paijo hanya berniat mati agar tak hidup sengsara di jalanan.

Amerta itu tidak ada. Kalaupun ada yang miskin tetap miskin meski umur panjang.

Jadi lebih baik umur pendek dan tidak lama-lama hidup. Seperti Paijo. [°]

°Posting untuk MFF prompt #31

@ADjavas