image

Langit tak berpihak lagi padaku.

Sejak tiga hari mendung datang hanya berjalan. Gelap sesaat, tapi jelang sore, terik masih kerap membuat berkeringat.

Apa guna payung dua biji di dalam tasku?

***

Pada dasarnya aku tak mengenal Rinai. Sengaja kunamai begitu karena Rinai selalu datang saat hari hujan. Saat air meluber-luber di jalan hingga sepatuku tak pernah selamat.

Kami tak pernah bercakap banyak. Aku lebih banyak bertanya dan dia hanya mengangguk. Hanya menggeleng. Hanya diam dengan sesekali memandangku.

Rinai tak pernah bertanya tentang namaku. Kenapa aku cerewet. Kenapa aku lebih memilih menemaninya hingga bus kubiarkan lewat berkali-kali. Satu hal yang membuatku betah adalah karena ekspresi wajahnya yang kaya.

Banyak cerita di air mukanya yang membuatku anteng untuk membacanya.

“Kamu sekolah di mana?”

“Aku bisa mempelajari apapun dari alam.”

“Kamu manusia apa hantu?”

“Aku ada. Ada nyata.”

Rinai selalu pergi dari halte saat hujan nyaris reda. Saat gerimis tipis dia akan pergi tanpa suara. Lalu hilang seperti dibawa kembali oleh awan yang sudah menuntaskan tugasnya.

***

Aku membenci langit yang biru.

Aku membenci terik yang terasa perkasa meranggas hingga ke kepalaku.

Rinai tak pernah nampak saat hari cerah. Selama apapun aku menunggu dia tak hadir. Bahkan aku lupa bagaimana cara membaca mukanya. Lupa bagaimana dingin yang menyelubungi tubuhku saat berada di dekatnya.

“Tidak akan lagi ada hujan. Minggu lalu hujan penghabisan.”

Aku tak peduli. Dua payung masih tersimpan di tas.

***

Mungkin suatu saat aku akan melihat Rinai lagi. Membaca wajahnya yang tenang. Memahami setiap rintik yang dia tahan.

Rintik yang sama di ujung rasaku. [°]

@ADjavas