gambar dari DA

Malam ini nenek tidak ingin kutemani. Dia sendirian saja di rumah. Padahal sejak sore hujan sudah turun.

“Kamu pulang saja, Le! Malam ini nenek pengen tidur sendiri.”

“Kenapa memang jika aku temani?”

“Jangan.”

Aku pergi pelan-pelan.

***

Ibu cerita kepadaku perihal yang dilakukan nenek. Katanya setahun sekali dia akan tidur di kamar terkunci dan tanpa penerangan. Ibu tidak tahu sejak kapan ritual itu dilakukan. Yang jelas sejak ibu lahir dan tak punya ayah, nenek sudah begitu.

Menolak tidur bersama.

Tanpa ada alasan.

“Jangan ganggu nenekmu. Biar saja begitu.”

“Tapi apa ibu tidak ingin tahu?”

“Setiap orang punya hak dalam menyimpan rahasia. Bila perlu Tuhan tak perlu tahu.”

Sekali lagi aku mengangguk dan pergi pelan-pelan.

***

Nenekku janda.

Suaminya, kakekku mati sebelum ibu lahir. Mati dalam perang.
Tapi nenek tidak dapat pensiun.

Kata nenek: “kakekmu mati sia-sia, kuburannya saja tidak berbambu runcing. Cuma pusara dari batu.”

Nenek tak pernah peduli dengan perayaan negeri ini. Katanya buat apa peduli kalau mereka tak peduli denganku.

Saat kakek mati dan nenek mengandung, nyaris setiap hari nenek makan gaplek atau umbi. Saat ibu umur dua tahun nenek menikah lagi. Tapi kakek keduaku mati juga. Pada hari-hari mulai basah akhir tahun.

Nenek selalu terlihat lebih biru raut mukanya setiap sebelas menggantung di tembok.

***

Aku kembali ke rumah nenek.

Diam-diam.

Aku berkeliling, semua gelap.

Hujan masih lumayan deras meski tak terdengar lagi guruh di langit. Aku mengendap, merayap. Telingaku mendengar suara nenek sedang mendengung. Dia menangis, sambil mendesis.

“Kenapa kau tidak mengambilku? Aku ikhlas. Kau tidak menjadikan suamiku pahlawan, aku ikhlas. Kau tidak memberiku anak lagi dari suami keduaku, aku ikhlas. Tapi kenapa kau tidak mengikhlaskanku menyatu dengan mereka semua.”

Aku berbalik. Lalu pergi keluar rumah.

***

Aku berdosa karena mendengar rahasia nenek.

***

Pagi ini nenek kembali seperti biasanya. Duduk di depan rumah. Banyak tersenyum dan ceria.

Sejak pagi memang hujan. Gede-gedene sumber itu bulan Desember. Nenek meninggalkan birunya dengan sempurna.

Selamanya aku akan diam.

Rahasia nenek akan aku jaga. [.]

@ADjavas