Yang aku tahu sekarang, cuma merenung. Memanjat doa baik-baik. Lalu memandangmu lekat dari balik kaca.

Sayang, kau masih indah meski kata mereka nyawamu lilin. Akan lumer dan habis, secepatnya.

***

Sayang,

Seminggu lalu aku ikut misa di gereja. Beberapa pendeta aku mintai doa. Bahkan aku diajarkan sendiri caranya. Demi kamu aku lakukan dengan benar.

Tapi sayang, kau masih saja lunglai.

Lantas aku ke pura. Membawa pelbagai atribut seperti mereka. Bahkan aku juga diajarkan berdoa dengan cara benar. Alasannya sama. Aku cuma memintakan kesembuhanmu.

Tak jua kau berkedip! Oh, sayang!

Kemarin itu aku bertemu temanmu. Kita sama-sama ke kelenteng. Dia bertanya. Kenapa aku tidak berdoa di masjid. Bukannya aku ini anak pemilik pesantren besar.

Aku diam. Tak menjawab.

Apa aku salah sayang? Berdoa di Tuhan-Tuhan mereka?

Bukannya mereka itu juga kawan? Berarti Tuhanku juga kawan Tuhannya. Jadi apa salah jika aku meminta kesembuhanmu di Tuhan mereka juga?

Aku cuma ingin kamu sembuh. Itu saja. [.]

25 Februari 2013