Aku membenci ibu.

Sejak malam berlendir itu, aku mulai menyukai dingin. Meringkuk di bawah AC hingga menggigil, atau merendam tubuhku di air dengan bongkahan es batu.

Membekukan tubuh kujadikan aktivitas mengasikan seusai menuntaskan pekerjaanku sebagai guru ngaji di surau. Jika sudah biru-biru dan kaku, aku akan berteriak-teriak sambil menyumpahi ibu yang sudah terpendam.

***

Awalnya aku cuma iseng bermain-main hangat dengan Lastri. Gadis manis agak tomboi desa sebelah. Lambat laun malah jadi suka. Bahkan dia kerap mengajakku kencan buta malam minggu di aloon-aloon kota hingga jam 9 malam.

Awalnya sih ibu diam saja. Lama-lama aku dipojokkan. Katanya aku ini menjijikkan. Pacaran dengan Lastri membuat ibu jadi berang kepalang-palang.

“Kamu harus menikah dan melayani lelaki yang jadi suami. Mencintai seumur hidup.” saat itu ibu membawa pecut kayu menjalin yang sekali cetar kaki lecet beset-beset.

“Jadi Ibu mencintai ayah hanya karena dia lelaki? Lalu jika aku perempuan begitu juga Lastri tak boleh saling mencintai?” aku semakin naik pitam, ibu kian menjadi-jadi.

Kami sama-sama keras batu.

Ternyata ibu memang kuat. Dia mengadu ke ibunya Lastri. Hingga gadis perkasaku dinikahkan, lalu disuruh transmigrasi ke Sumatra. Jadilah aku lontang-lantung linglung setiap hari. Dua kali aku mencoba membuat maut. Tapi malaikat malah kian membuatku hidup dan kuat.

Setahun sesudahnya aku menikah. Dengan pria tentunya, pilihan ibu. Dan di bawa hijrah ke kota seberang.

Suamiku baik. Tapi dia aneh. Setiap behubungan badan, tubuhku dikencinginya dulu. Setelah itu aku dipecut cetar, dan disetubuhinya tanpa membuatku nikmat, lalu ditinggal ngorok.

***

Ah! Aku membenci Ibu. Jika saja aku dibiarkan perawan.

Demi Lastri yang kabarnya sudah punya anak. Aku akan membekukan tubuhku tiap hari. Membekukan sisa-sisa cinta.

Biar saja suamiku bawa lacur dan menyetubuhinya di kamar dengan dalih tubuhku seperti es.

Aku akan terus membuat tubuhku sedingin es. Selama. Lama-lamanya.