Gambar dari Google.

.

.

“Apa kau sungguh ingin jadi suamiku?”

Dia mengangguk dan memegang tanganku erat-erat, “Tentu saja!”

Duniaku berubah saat itu juga. Terlebih saat dia meminangku di rumah.

“Aku sungguh menyayangimu!” kupeluk dia.  Kusesap aroma tubuhnya. Aroma kesungguhan.

“Bulan depan kita menikah.” ucapnya mantap. Aku tersenyum renyah dengan rona jingga di wajah.

“Aku menyayangimu juga!”

Bibir kami bertemu. Hangat.

***

Enam bulan sudah aku menyandang gelar istri. Perutku pun sudah bermanusia. Anaknya. Tiada hal paling bahagia di dunia ini selain menyambut kedatangan buah hati. Bukankah begitu sayang?

Suamiku tertidur damai, mungkin mimpi indah.

“Sayang, masih adakah sedikit cinta diciumanmu tadi?”

Kuelus pundaknya sambil menahan perih di pinggiran bibir yang lebam.

***

Salam Karya!