.

.

Sepenggal dialog antara aku dan sahabat tentang cinta dan bahagia.

adakah simpul yang tidak tersambung bisa terhubung

ada
itu kau
ragamu terpisah namun desiran hatimu tetap memendar
bersinkroni dengan lemahnya

ataukah minyak akan menyukai air

minyak tak pernah membenci air
ia tatap besanding meski tak menyatu
mau menjadi pelindung
ia selalu di atas air yang akan uap
bukankah itu kau, lagi

aku hanyalah sudra yang berharap cinta pada brahmana
pupus

salah
tak ada hirarki dalam mencinta
budak alamlah yang menyekat
karena aku pernah yakin
cinta itu tak punya alasan
bahkan untukmu

itulah naifnya diriku
tak kubaca ketika cinta menjejakkan kaki-kaki kecilnya
yang kulihat hanya aku terpesona dengan keindahan yang ada
dan ketika tali-tali cinta menjerat hatiku dalam kekuatannya
aku tak bisa lagi melawan, hanya mampu menghamba dalam kekuasaannya
untuk kemudian terpuruk dalam lara yang menganga

kalau cinta tak butuh alasan
mengapa harus ada cinta yang tak semestinya
mengapa harus ada tangan yang tak tersambut

semua hanya menjadi retorika yang memenuhi isi kepala
aku hanya mahluk emosional yang terlampau lemah untuk mengandalkan logika

karena kita mengembus di ranah rasa
lara yang tercipta hanya ilusi
bahagia yang hakiki bukan senyum
bukan juga buncah yang memeluh
tapi titik ikhlas di gumpalan rindu

bahagia
bukan sebanyak madu tertetes
tapi seluas cekok pahit yang kita dera
bukankah sejatinya isi itu kosong
kepedihan hanya kamuflase

kelak
kita akan memanen
di kaki Ibu
masihkah kau bisa sabar

5 Juni 2012