Di bawah ini adalah tiga puisi yang aku buat kemarin. Entah karena sedang berhalusinasi (kata teman) atau pikiran sedang demam seperti badannya. Jadilah seperti ini, pendek-pendek.

/1/
kunang dan kodok ingat

dulu sekali
aku masih ingat
saat kunang masih terbang
gelap sudah lengkap

pada pojok kali
di batuan agak coklat
berudu sering berenang
melawan arus siap

agak kemarin
aku masih lumayan ingat
saat cahaya kunang redup
cuma dua ekor saat gelap

tak ada pojok kali
batuan pecah belah
hanya kodok bisu
tak melawan arus tapi pekat

nanti sekali
aku putuskan tak mengingat

semua tamat

/2/
aku syukur

entah
panas masih lekat
kening
dua mata
telinga
bahkan embusan nafas

lagi
kaki dan jemarinya
beku
membiru

tapi
aku syukur
ini nikmatNya

/3/
aku mati

dia
ranah hangat
penuh bunga
juga bisa :
aku mati!

JN

Oke, karena saya lama menghilang dari peradaban blogger, saya tambah bonus puisi tanpa judul. Puisi yang kemarin saya kirim ke ehem saat dia ultah.

/4/
kala khusyu’ tunduk
pada rinduan tak ambruk
aku mengeja aksaraNya
tanpa berjeda

bersujud
membau harum tak wujud
aku merajut pinta
doa sederhana

Tuhan
biarkan ia lama di dunia
agar aku bisa jadi imamnya []

Sebenarnya saya posting ini juga bingung. Kemarin di twitter ketemu dengan mas Tunsa, mbak Dhenok, mas Falzart dan mbak Puji juga. Jadi kepengen ngeblog lagi. Hehehe.

Salam Blogger!