Waktu kecil ayah pernah bilang. “Jika senja datang pergilah ke tepian laut. Lihat ke arah puncak gunung Fuji. Jika kau melihat cahaya di sana segeralah berdoa. Dalam waktu dekat yang kau inginkan akan terkabul.” Aku masih ingat itu. Bahkan nyaris mengerak hingga setiap detil aku pahami.

Sore musim panas begitu hangat. Aku bersepeda dari rumah menuju pinggiran pantai. Rumahku berada di sepanjang teluk Suruga, Perfektur Shizuoka. Lepas pantai langsung dihadang gunung Fuji. Mungkin desaku memang dilindungi dewa yang bersemayam di ujung gunung sana.

“Hideki-kun, apa kabarmu?” Seorang gadis berpakaian casual mendadak duduk di dekatku. Aku menoleh. Tapi tak mengenalnya.

“Kabarku baik. Kau?” Aku menatap laut lagi. Tanpa berkedip. Membiarkan dia duduk di sampingku.

Pandanganku mendadak terhalang. Gadis itu berdiri di depanku sambil tersenyum. “Apa kau lupa denganku Hideki-kun?” Aku mengangguk.

Jujur aku memang tak kenal. Apa dia sahabatku masa kecil. Atau dia penguntit. Tak ada seklebat bayangan tentangnya.

“Kau tak ingat? Musim gugur 10 tahun lalu kita pernah bermain di sana?” dia menunjuk pada pinggiran karang yang berpasir. Aku masih diam. Menggeleng lagi.

Gomen. Wasuremasu. [1]”

Daijoubu dayou [2]. Mungkin memang tidak penting. Oh iya, bagaimana kabar ayahmu?” Gadis ini meloncat dan duduk lagi di sampingku.

Aku terdiam sejenak. Memainkan jemariku pada pasir pantai. “Sebulan lalu beliau di kremasi. Sejak akhir musim dingin tahun lalu dia sakit dan akhirnya tiada.” Ku rebahkan badanku ke pasir.

“Kau masih yakin dengan yang ayahmu katakan tentang puncak Fuji?”

Aku meliriknya. Berpikir sejenak. “Bagaimana kau tahu?” Sekarang aku memandang wajahnya.

Gadis itu menggambar bentuk lucu di pasir. Dengan potongan dahan pohon, dia mencoba menunjukkan sesuatu kepadaku.

“Apa kau ingat ini? Bukankah setiap salju menyelimuti pasir kita selalu membuat ini?” Aku terdiam mengamati bentuk aneh. Seperti yang pernah aku gambar. Entah kapan.

“Siapa namamu?” aku sangat penasaran.

Dia cuma tersenyum. Lalu meneruskan gambar yang ia buat. Aku bangkit dan bergerak ke arahnya.

“Jika kau menjawab pertanyaanku tadi pasti kau ingat aku.”

“Baiklah, Aku masih percaya hingga sekarang tentang cahaya di puncak gunung Fuji.” Aku jawab sekenanya.

Matahari kian redup. Mulai masuk ke tempat peristirahatannya, hari ini. Dan aku masih tak mengenali dia siapa.

“Hey, kau benar tak ingat?”

Aku menggeleng.

“Kau pernah tak percaya akan mitos puncak Fuji itu. Saat itu kau kehilangan dua mainanmu. Lalu kau berteriak di pantai, kau bilang gara-gara dewa gunung kau kehilangan mainan.” Dia terlihat tersenyum. Menertawaiku. “Lalu aku memberimu karet gelang, dan kita bermain membuat bentuk lucu.” Dia memberiku karet gelang.

“Miyuki-chan?” dia mengangguk. “Kau kah itu?” Mataku berbinar. Bagaimana mungkin dia jadi secantik ini.

“Akhirnya Hideki mengenaliku.” Dia merona dalam senyum yang renyah.

Gadis ini menghilang sejak aku tak mengumpati pantai dan gunung Fuji lagi. Sempat aku menunggunya di sini setiap hari, hingga akhirnya aku lupa dia.

“Aku punya rahasia. Apa kau mau tahu?” Miyuki mendadak mendekat ke arahku.

“Apa apa?”

“Sebenarnya aku pernah tidak percaya lagi akan yang ayah ceritakan tentang gunung Fuji. Aku rasa itu cuma mitos saja.” Aku berkata lemas.

“Lalu sekarang?”

Aku menarik Miyuki hingga kaki kami menyentuh air di pantai. “Sekarang aku percaya. Bahkan sangat.”

“Apa yang membuatmu percaya?”

“Sebulan sebelum ayah wafat, pertengahan musim semi dia mengajakku ke sini. Dia menunjukkanku cahaya di Gunung Fuji. Aku melihatnya. Apa kau tahu apa yang ia katakan?” Dia menggeleng. Aku melanjutkan lagi. “Dia ingin bahagia. Setelah itu dia wafat dengan sangat bahagia.”

“Lalu apa yang bisa kau simpulkan dari ini semua hingga kau percaya lagi?”

“Sepertinya ayah hanya ingin mengajarkanku bahagia. Bahagia bukan berarti punya semua. Kehilanganpun juga bisa bahagia. Mungkin dewa di atas sana hanya mengabulkan doa kebahagiaan yang tulus.”

“Jika sekarang terlihat cahaya di puncak sana, apa yang akan kau ucap?”

“Mungkin doa agar kita bahagia.” aku tersenyum kecil. Dia membalas dengan meletakkan kepalanya di bahuku.

“Hey lihat ada cahaya!” — おわり

———————————————————————————————

[1] Maaf, lupa.

[2] Nggak apa-apa.

———————————————————————————————

Sebenarnya sih pengen diikutin juga di GA-nya mbak TT ( celoteh .:tt:.) karena cuma satu FF saja ketentuannya, maka terpaksa tidak diikutin, hahah. Yasudah posting sebagai artikel reguler. hihihi

Gambar : http://bit.ly/HiiIrz