Aku terdiam di dekatnya. Menatap berpuing kelopak bunga yang hambur ke udara. Sesaat kemudian dia tersenyum. Menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Hana, apa hari ini kau bahagia?” dia tersenyum lebar. Aku bisa membaca aksara dari setiap gerak wajahnya. Sangat jelas. Aku tahu isi pada ranah hatinya.

Hari ini aku membawakannya sekotak permen buah. Sejak kecil aku hafal apa yang menjadi kesukaannya. Aku berikan dua butir permen warna merah dan hijau. Ia makan sambil memelukku. Erat.

“Aku harus pulang sekarang. Besok kita bertemu lagi di sini.” aku kecup keningnya.

Musim gugur tahun ini sangat biru. Aku tidak bisa membayangkan jika salju pertama runtuh. Mungkin suhu merangkak bersembunyi di bawah nol derajad.

Siang ini aku menemui hana. Aku membawa sebuah syal halus yang sengaja aku buat. Seminggu lebih aku belajar merajut. Akhirnya jadi selembar panjang syal warna putih.

“Kau tampak kurus Hana. Apa kau tak bahagia?” dia cuma menggeleng. Masih berusaha memulas senyum di wajah sendunya.

Aku tahu jika dia merindukanku. Akupun juga. ” Hana, ini syal buatmu.” Dengan pelan aku lilitkan ke lehernya. “Hangat kan?” Dia tersenyum.

Tak genap sebulan salju pertama turun. Sebelumnya aku sudah berjanji dengan hana akan datang lagi. Kali ini aku membawakannya omamori. Sebuah jimat, agar dia lebih bahagia.

“Hana, kau tambah kurus. Benar kau tidak apa-apa?” dia memelukku. Hangat sekali.

“Apa kau rindu aku Hana?”

Bunga pertama musim semi akhirnya mekar. Hana semakin terlihat kurus. Aku nyaris setiap hari menemuinya.

“Hana kau kenapa sayang?” dia sangat pucat.

Aku memberikannya setangkai bunga yang aku patah sebelum menemuinya. Akhirnya dia tersenyum. Dia mencium pipiku.

***

Siang itu, awal musim panas. Aku membawa sebuket bunga. Kesukaan hana. Aku berlari untuk segera menemuinya.

“Hana, ini bunga untukmu. Mungkin 7 tahun ini aku telah memenuhi janjiku untuk selalu di dekatmu. Sekarang untuk terakhir kalinya. Aku akan duduk di sampingmu.”

Aku duduk di dekat makam Hana. Menatap Hanamizuki yang gugur ke atas kuburannya.

“Perkenalkan ini Mizuki, calon istriku. Mungkin di kehidupan selanjutnya kau yang akan jadi istriku. Aku masih akan ingat janji kita. Bahagialah.”

Aku meningglkan gundukan di bawah pohon hanamizuki. Di sana ada syal, permen, omamori dan bunga yang ku berikan kepadanya.

Hana, Apa kau bahagia hari ini?

————————————————————

wordcount : 354 words

“Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.

sumber gambar: http://bit.ly/H9yTsa (hanamizuki)