Aku terdiam di dekatnya. Menatap berpuing kelopak bunga yang hambur ke udara. Sesaat kemudian dia tersenyum. Menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Hana, apa hari ini kau bahagia?” dia tersenyum lebar. Aku bisa membaca aksara dari setiap gerak wajahnya. Sangat jelas. Aku tahu isi pada ranah hatinya.

Hari ini aku membawakannya sekotak permen buah. Sejak kecil aku hafal apa yang menjadi kesukaannya. Aku berikan dua butir permen warna merah dan hijau. Ia makan sambil memelukku. Erat.

Continue reading “Hanamizuki”