Tanganku masih menggenggam sobekan kertas putih. Bertinta merah darah. Mataku mengatup berleleh embun asin yang mengalir ke pipi. Serta badan polos penuh sayat mengering. Meringkuk pada bebatuan cadas kaki bukit.

Di sampingku, ada seonggok raga kosong. Mati. Membiru perlahan bersama dengan membekunya alam. Terlihat kilasan senyum perdu yang kelu.

Aku berjalan mendekatinya. Membelai rambut urai indahnya. Bibir mungil yang dulu merekah. Pipi rona jingga yang nyaris aku gigit jika melihatnya. Beku. Kini semua pucat pasi.

“Nir, apa kau dengar aku?” beberapa kali aku membisik lirih. Berkali juga tiada jawab. Bau busuk pun tidak.

Continue reading “Bulan Biru”