Terik masih membakar kulitku. Peluhku terasa mengucur. Sangat deras. Sang surya begitu betah di posisi tengah. Seperti terikat, erat. Melihatku yang sedari terbit tak henti mengayun kapak. Menebang beberapa pohon. Jalanku bertemu denganmu.

Ada gurat-gurat darah di tanganku. Perih sungguh. Memar berjajar pada lengan seperti deretan biru. Pandanganku kadang kabur, bahkan gelap sesaat. Nafasku tersengal, beberapa kali sesak menyempitkan dadaku. Sakit. Semua ini sangat menyiksaku.

Seberapa sakit lagi, agar hati ini termaafkan?

Iyakah hingga nyawa itu tercabut?

***

“Deva, bisakah kau datang nanti ke acara perpisahanku. Untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengingat wajahmu.”

Hampir lima jam acara itu selesai. Aku masih diam pada pojok gelap rumahku. Rasanya sulit bergerak. Aku tidak kuat jika harus dihadapkan dengan perpisahan. Apalagi dengan gadis itu.

“Deva, apa kau menyukaiku?”

Kalimat terindah yang tak pernah aku lupa. Kau merajuk dan berbisik menanyakan itu. Aku diam, tersenyum, tanpa patah kata.

Musim, janganlah berubah. Aku ingin menemuinya. Menunggunya. Selalu menunggunya.

***

Aku ikat beberapa batang pohon. Dengan sisa tenaga aku pasang layar. Mendorong hingga ke pinggir pantai. Sebelum akhirnya aku roboh. Tenagaku habis.

“Deva, kalau aku pergi. Apa kau mau menungguku?”

Tanganku bergerak.

“Apa kau akan sabar menunggu hingga waktu kita bisa bersama lagi? Bermain bersama di bawah pendaran bintang.”

Aku bangkit dan mendorong rakit. Menaikinya. Hingga tengah.

“Aku akan terus menunggumu. Sampai kapanpun. Aku akan abadi untukmu!” teriakku dimakan kegelapan malam.

***

Badanku lemas. Terpanggang terik yang terasa menarik nyawaku. Tapi aku belum sampai laut Ksera. Entah di mana letaknya. Aku harus sampai kesana. Hari ini juga. Sebelum aku…

Angin laut kian kencang. Mendung menggantung tebal. Beberapakali kilat nyaris mengenaiku. Cuaca berubah drastis.

Tubuhku terasa limbung.

“Jika Kau mengabulkan doaku. Tolong bawakan laut Ksera ke sini. Aku ingin menemukan tirta Amerta. Meminumnya. Agar bisa terus menunggunya! Selamanya.” teriakku sebelum akhirnya roboh.

***

“Deva, tak adakah yang ingin kau katakan?” Aku menggeleng dengan wajah merah.

Hatiku rasanya lumer. Hangat bibirnya masih bersisa hingga sekarang.

“Aku bahagia!” gadis ini memelukku. Sangat erat.

***

Mataku menangkap titik terang di dasar samudra. Amat indah dengan pendaran aneka warna. Tak pernah aku lihat keindahan semegah itu. Itukah letak tirta amerta?

Tanganku terus meraih. Namun tak pernah sampai. Semakin ku mendekat. Semakin titik itu kabur. Bahkan hampir padam.

Tak bolehkah aku terus menunggunya? Tak hanya 50 tahun ini. Aku ingin terus menunggunya datang. Tak bisakah Kau mengabulkan?

Aku tak memintaMu membawa dia ke hadapnku. Cuma biarkan aku menunggunya. Berikan aku keluasan waktu. Tak bisakah?

Nafasku kian habis. Tubuhku kian dingin. Terasa membeku dan membatu.

Baiklah. Jikalau Kau tak bisa mengabulkan. Bisakah kau memberiku satu kesempatan. Mengatakan ini…

“Aku menyayangimu Riana!”

Terimakasih.

Aku mampu mengatakan itu sekarang. Meski Kau saksinya.

Gelembung terakhir dari hidungku telah naik kepermukaan. Aku mati rasa. Semuanya gelap.

——————————————————————————————————–

word count : 450 with title

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Advertisements