Terik masih membakar kulitku. Peluhku terasa mengucur. Sangat deras. Sang surya begitu betah di posisi tengah. Seperti terikat, erat. Melihatku yang sedari terbit tak henti mengayun kapak. Menebang beberapa pohon. Jalanku bertemu denganmu.

Ada gurat-gurat darah di tanganku. Perih sungguh. Memar berjajar pada lengan seperti deretan biru. Pandanganku kadang kabur, bahkan gelap sesaat. Nafasku tersengal, beberapa kali sesak menyempitkan dadaku. Sakit. Semua ini sangat menyiksaku.

Seberapa sakit lagi, agar hati ini termaafkan?

Iyakah hingga nyawa itu tercabut?

Continue reading “One More Chance”