Betapa lelahnya beralih rupa. Sekujur sayapku terasa kaku. Menjadi manusia ternyata bukan pilihan yang tepat. Terlalu banyak noda hitam yang terpercik. Separuh magisku pudar. Berbalas keruh pada mata ketigaku. Hasrat pada mula semuanya.

***

“Hey, bagaimana dengan kencanmu semalam?”

“Entahlah, bisa dibilang sukses, bisa juga tidak.”

Orang itu terdiam, memandangi wajahku yang memerah. Mungkin malu. Lalu dia tersenyum hingga pecah tawa.

“Jangan bilang kau tak mampu melakukannya dengan teman kencanmu. Apa aku salah?

Aku terdiam. Tersenyum kecut.

“Mataku mengeruh, itu terlalu mengerikan dari dikejar Hearder. Betapa buasnya orang itu.”

“Seharusnya kau sebuas singa kala memangsanya, jangan kucing.”

Aku tersindir lagi. Sekali lagi mataku kian keruh. Sayapku kian kaku.

“Bagaimana dengan segebok uang yang ku beri kemarin?”

“Masih di dalam lemari, tak aku sentuh”

Dia menahan senyumnya lagi. Dan pecah tawa lagi.

“Bahkan uang pun kau tak bisa memegangnya.”

Aku tersenyum lagi. Kecut lagi. Bahkan miris.

“Ini yang terakhir! Tentang jabatan yang aku beri?”

Aku tak menjawab dan langsung tertawa sebelum dia tertawa.

***

Akhirnya aku roboh. Hasrat makhluk bernama manusia benar menyeramkan. Dengan sisa tenaga aku mengepak lemah. Sayap putihku timbul bercak hitam. Kiranya tak ada makhluk yang mau berganti peran menjadi manusia.

Mungkinkah manusia semua begitu? -(197)