Lebam memenuhi mukaku. Mata panda, bibir sobek dan bengkak sekujur tubuh. Aku masih kuat Yah setelah ini. Kau bunuh pun jiwaku masih akan hidup. Biarkan aku begini, hidup dengan jati diri tanpa topeng hipokrit.

“Anak sialan, bukan takdirmu bersolek dengan gincu merah. Lihat!! Kau itu pria!!” Ayah menarikku ke depan cermin. Mengambil gincu dan mencoreng mukaku pada cermin. Lalu meninjunya hingga pecah.

Sekarang aku terkunci. Pada ruangan gelap lembab dengan bau pengap. Lilin kecil pada pojokan menyinari tubuhku yang katanya busuk. Busuk akan apa yang aku lakukan. Pria berdandan wanita. Salahku di mana?

Aku ambil pecahan cermin dan menusukkan pada ujung telunjuk. Menorehkan tinta darah pada tembok lusuh. “Arya Satya Prabu”

Pantaskah itu menjadi namaku? – (117 kata)