Purnama satu terlihat mengintip di balik gegunung yang berpeluk. Mengerlingku yang terdiam memainkan jariku di alir kecil sungai. Air memercik dan menimbulkan bunyi letup.

Aku duduk di atas batu kali yang besar. Ekor mataku menebar kepenjuru sawah yang terlihat meriah dengan gemerlip kunang. Dingin sang bayu tak aku gubris saat dengan lembut melompat di tengkuk.

“Erlina! Kau kenapa?” suaranya masih saja bergeming di ujung rongga telingaku.

“Erlina! Kenapa kau menjauhiku kawan?” hatiku mendesir memutar lagi rekaman suaranya. Begitu jelas. Nyata berdengung.

Rasanya hatiku tersayat ratusan silet. Perlahan dan pasti melelehkan darah hatiku yang sudah kering. Bertahap membuatku membusuk dengan terus berharap dan merindunya.

“Dasar bedebah! Kenapa kau selalu ada untukku! Enyahlah kau dari hidupku!” teriakku menggema di gelap yang memakanku utuh.

***


Satu pertanyaan pada hatiku untuk hari ini. “Mengapa aku dengan liar dan mendesir mencintai orang itu.”

Memang dia bukan hama yang mengerang rumput tetangga. Bukan juga ayam jago yang mengawini babon yang terlihat bergoyang di dekatnya. Dia ini pria teramat baik yang membuatku sepi.

Dengan mencintainya membuatku terpelanting ke lembah bisu. Mulut menyatu terus mengatup. Namun relung terus mendesir lapar minta dicinta.

“Dika! Apa kau menyukaiku?” iseng aku mengucap sambungan kata yang terasa berat itu.

“Hahaha, apa kau bercanda? Kita ini teman sehidup semati” jawab santai sambil merangkul. Tangannyapun selalu memainkan rambutku.

Teman sehidup semati. Kalimat ampuh yang menyambarku hangus.

“Jika teman kenapa kau sebegitu perhatiannya denganku? Kenapa kau rela berlari hujan tengah malam hanya ingin memberiku kejutan” kulontakan tanya yang mengendap di lidahku.

Ia tersenyum tipis memamerkan renyah bibirnya. Sengaja menampakkan lesung pipi yang ikut menertawaiku. “Karena kau sahabatku yang terbaik” katanya singkat sambil mencubit rona pipiku yang semakin merah.

Satu kemampuanmu yang paling teramat hebat. Dengan sekali berucap aku bisa diam saat menangis. Sekali sentuhan tanganmu bisa membuatku hangat walau sedang basah bercucur airmata. Rangkulanmu mengembalikan nyawaku.

“Apa tidak mungkin kau mencintaiku?” tanyaku sambil bersandar di pundaknya.

“Erlina! Bagiku kau itu sahabat yang tidak ada duanya. Bahkan jika ada siklus reinkarnasi. Selamanya ingin menjadi sahabatmu” jawabnya mantap sambil membelai rambutku.

“Aku mencintaimu…” kataku singkat sambil mencium pipinya.

Dia kaget dan langsung merangkulku. Tangannya menggelitiku hingga terpingkal. Aku roboh di tubuhnya.

“Sudahlah, kau jangan bercanda Erlina! Kita ini sepasang sahabat yang tidak akan dipisahkan. Hubungan kita akan abadi” katanya sambil menggosokkan keningnya di bahuku.

“Mana yang lebih penting buatmu? Sahabat atau cinta?” aku terus mengejarnya dengan segala pertanyaan.

Dia terdiam sebentar, melirikku dengan tatapan bingung. “Tentu saja sahabat” jawabnya ragu.

“Apa kau akan terima jika aku mencintamu?”

“Sekali sahabat tetap sahabat, Ok?” dia mencium keningku dan berlari. “Kita sahabat selamanya walau kita sudah pada titik moksa” senyumnya terkembang terlihat melambai.

Mengapa akhirnya aku cuma bisa melihatmu dari jauh. Menyaksikan kemesraanmu dengan wanita yang kau pilih. Senyum bahagia yang kau tebar buatku semakin menuju nadir.

Kau tetap seperti biasanya. Ada saat aku butuh. Kau masih dan masih tetap seperti biasanya, pawangku jika sedang menangis.

Mengapa kau sama sekali tak berubah?

Bagaimana dengan nasib cintaku? Apa akan berakhir dengan debu? Mungkinkah hilang terkikis rasa benciku yang mulai muncul.

Enyahlah!

Mencintamu membuatku kesepian…

Enyahlah cintaku!

***

“Erlina! Tahukah apa yang paling berharga di dunia ini?

“Entahlah kawan…”

“Memiliki sahabat sepertimu, menjadi sahabatmu sampai di kehidupan kehidupan selanjutnya…”

“Tak adakah kesempatan untuk menjadi kekasihmu?” tanyak sambil memeluk pinggangnya.

“Mungkin nanti di Taman Firdaus…” jawabnya mencium keningku.

Javas,