Purnama satu terlihat mengintip di balik gegunung yang berpeluk. Mengerlingku yang terdiam memainkan jariku di alir kecil sungai. Air memercik dan menimbulkan bunyi letup.

Aku duduk di atas batu kali yang besar. Ekor mataku menebar kepenjuru sawah yang terlihat meriah dengan gemerlip kunang. Dingin sang bayu tak aku gubris saat dengan lembut melompat di tengkuk.

“Erlina! Kau kenapa?” suaranya masih saja bergeming di ujung rongga telingaku.

“Erlina! Kenapa kau menjauhiku kawan?” hatiku mendesir memutar lagi rekaman suaranya. Begitu jelas. Nyata berdengung.

Rasanya hatiku tersayat ratusan silet. Perlahan dan pasti melelehkan darah hatiku yang sudah kering. Bertahap membuatku membusuk dengan terus berharap dan merindunya.

“Dasar bedebah! Kenapa kau selalu ada untukku! Enyahlah kau dari hidupku!” teriakku menggema di gelap yang memakanku utuh.

***

Continue reading “Sehidup Semati”