Aku berlari dan berhambur bersama kawanan laron di bawah guyuran gerimis. Setitik cahaya kecil berselimut gelap tempat kita bercengkerama. Menyerap dingin dari rinairinai yang terlihat memberkas pelangi.

“Darmo!” teriak tuan laron kecil yang hinggap di pundakku.

Aku mengerling melihat hewan kecil bermahkota. Sayap tipis berajut sutra mengepak lemah.

“Iya tuan ada apa?” jawabku sambil duduk di bawah cahaya lampu dan bersila.

Tuan laron terlihat menggosok kakinya pada bajuku. Matanya berkedip cepat seirama dengan hembusan nafasku. “Darmo! Apa kau tahu? Kalau aku ini ningrat?” katanya terdengar sombong.

“Tentu saja tuan, dari mahkotamu yang indah itu pasti kau ini keturunan raja” sahutku acuh.

Laron sombong itu terbang mengitari lambu lalu berbalik dan hinggap di hidungku.

“Darmo! Apa kau tahu jika aku ini utusan?” katanya lagi dengan nada sombong.

Dengan acuh aku jawab seadanya. “Entahlah, mungkin saja begitu” lalu aku sibuk menekan ponselku.

“Apa kau utusan? Siapa penciptamu?” tanya tuan laron sambil menatapku.

“Aku? Entahlah” aku jawab dengan ogah-ogahan.

Dengan santai dan memamerkan kepakan sayap, hewan kecil ini mulai berkisah. “Aku utusan raja dan ratu. Misiku adalah terbang mencari terang. Setelah itu jika takdir berkehendak aku akan membentuk koloni baru.

“Membangun keluarga baru dengan aku rajanya” jelasnya lancar.

“Apa peduliku?” tanggapku mencoba menyentil hewan itu karena kesal.

Hewan itu hinggap lagi. Tapi sekarang di rambutku. “Hey Darmo! Apa tugasmu diciptakan dunia ini?”

Aku terdiam bingung. Sampai saat ini aku belum tahu apa tujuan hidupku. Bermimpipun aku langsung lupa.

“Aku lahir untuk misi penyebaran koloni.”

“Bukankah kau sebentar lagi akan mati terlindas motor?” desisku mencibir.

“Memang, seorang laron diberi dua pilihan. Terbang dan nantinya bisa jatuh di tempat nyaman dan membangun koloni baru.

“Atau jika tidak beruntung berakhir dengan tubuh pecah terlindas, bisa juga jadi umpan ikan saat memancing.”

Aku mencoba meraih laron dikepalaku untuk aku pites sampai mati. “Lebih baik kau pergi mencari pasanganmu!” teriakku kesal.

“Darmo! Kau belum menjawab apa tugasmu dilahirkan di dunia ini!”

Aku bangkit dan mencoba pergi dari tempat bercahaya itu. “Aku pulang! Semoga misimu sukses!” teriakku sambil mengangkat tangan.

“Apa kau tahu jika aku disebut hewan satu malam?

“Hidupku ditentukan hanya dalam satu malam. Seperti yang aku bilang tadi. Ada dua pilihan. Hidup atau mati dengan tujuan akhir yang sama berusaha menjalankan misi apapun yang terjadi” jelas tuan laron panjang lebar.

Aku langsung terhenti dari jalan. Entah kenapa ada sesuatu yang besar dari kata-katanya.

“Apa kau pernah berkorban?”

Pikiranku melayang mencari jawaban yang entah kenapa menjadi kabur. Tak ada jawaban untuk pertanyaan itu.

“Aku persempit lagi. Apa kau pernah berkorban untuk dirimu sendiri? Berusaha menggapai sesuatu walau beresiko?” tanyanya lagi membuatku semakin bingung.

“belum…” jawabku lemah.

Dengan santai hewan itu terbang dan hinggap dikeningku. “Aku siap jika harus mati hari ini. Karena aku hanya hewan rapuh yang diberi titah besar dari raja” katanya dengan suara parau.

“Apa kau bahagia tercipta sebagai laron?”

“Setiap makluk di koloni diciptakan dari induk yang sama. Setelah lahir mereka langsung punya jalan masing masing. Tugas yang diembanpun berbeda…”

Hmmm… Aku bergumam singkat. “Apa kau tidak khawatir dengan masa depanmu?” tanyaku sekenanya.

“Hidup dan masa depanku ditentukan cuma semalam ini. Bukankah jika manusia punya waktu puluhan tahun untuk menatap masa depannya? Aku cukup semalam saja”

“Benar sekali…”

“Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan pada manusia. Pertama, apa tujuanmu hidup di dunia? Apa kau mau berkorban demi masa depan? Dan yang terakhir, apa manusia serukun koloniku.

“Apa kau bisa menjawabnya Darmo?”

“…”

Javas, 061211