Aku berlari dan berhambur bersama kawanan laron di bawah guyuran gerimis. Setitik cahaya kecil berselimut gelap tempat kita bercengkerama. Menyerap dingin dari rinairinai yang terlihat memberkas pelangi.

“Darmo!” teriak tuan laron kecil yang hinggap di pundakku.

Aku mengerling melihat hewan kecil bermahkota. Sayap tipis berajut sutra mengepak lemah.

“Iya tuan ada apa?” jawabku sambil duduk di bawah cahaya lampu dan bersila.

Tuan laron terlihat menggosok kakinya pada bajuku. Matanya berkedip cepat seirama dengan hembusan nafasku. “Darmo! Apa kau tahu? Kalau aku ini ningrat?” katanya terdengar sombong.
Continue reading “Kepak Laron”