Aku termagu memintal kelu. Mataku terasa panas serupa terarang. Pikirku mendadak kosong melompong dan ada sesuatu ganjalan yang kian membesar di bidang dadaku.

Aku meringkuk dipojokan kamar. Menimang asa yang terlanjur runtuh. Memandang langit kamar yang membisu. Meresapi dingin yang menyusup pori. Kian buatku beku membatu.

Aku menghitung sisa usiaku.

***

“Sayang kenapa belakangan ini kau selalu menghindariku? Apa aku punya salah denganmu? Tolong jawablah!” pemuda berperawakan tegap dengan wajah tirus itu terus-terusan menjejaliku dengan tanyanya yang beruntun.

“Dion! Jawabku pertanyaanku! Jangan cuma diam saja. Apa kau kira mudah menemukanmu bersembunyi di puncak bikit seperti ini” katanya lagi keras dengan nada emosi.

“Yan kamu pulang saja, biarkan saja dulu aku disini. Tolong kalau kau benar-benar tulus menyayangiku tinggalkan aku sendiri. Aku mohon” jawabku singkat dan langsung membuang muka.

“Dion, kita sudah pacaran dua bulan. Bertemanpun sudah tujuh tahun. Tentunya tidak ada lagi rahasia diantara kita. Jadi tolong bicaralah kau ada masalah apa?” tanya Yayan terus mengejar.

“Yan, aku harap sekarang kau pergi saja. Aku sama sekali tak menyukaimu. Makanya aku menjauhimu. Apa kau puas?” kataku memandang wajahnya tajam.

“Aku tak peduli. Mau kau benci aku atau tidak. Setidaknya jangan halangi aku melihatmu!” teriak Yayan tak mau kalah.

“Pergilah kau!” teriakku sambil terisak.

***

“Kau? Jadi ini alasanmu menjauhiku? Jadi berandal sialan ini yang membutakan matamu. Dasar kau maniak! Katamu kau tak akan pernah melakukan hubungan seksual lagi. Tapi apa?” teriak Yayan langsung memukulku hingga tersungkur.

“Dasar cowok kotor! Aku menyesal mengenalmu! Tak ubahnya sambah busuk. Yang membiarkan siapa saja menjadikanmu tadah lendir!” teriak Yayan semakin histeris dan terus saja memukuliku.

Aku cuma diam dan berusaha tersenyum walau wajahku terus saja dipukul. Aku tunjukkan jika aku ini kuat. Aku tak menyesal atas apa yang aku lakukan. Tak aku balas pukulannya walau mukaku terus membiru. Mulut dan hidungku mengalirkan darah.

“Kemari kau” teriaknya menarikku kasar ke dalam kamar mandi dalam keadaan telanjang.

Bergayung-gayung air ia siramkan di mukaku. Aku gelagapan hampir tak bisa bernafas. Air dingin ini mebuatku begidik merinding dan langsung mengigil. Wajahku agak memucat dan gigiku terus berdecit.

“Aku pergi!” Yayan berlalu sambil membanting gayung ke lantai hingga pecah.

Aku lirik dia yang berjalan keluar kamar dengan senyuman tipis. Aku pandangi dia hingga pintu tertutup lagi.

Tangisku pecah. Aku meringkuk dan menggigil.

***

Sore bergelayut awan mendung. Rata mengelabukan luas langit. Aku terdiam di atas kasurku. Memeluk guling. Memandang kosong ke atas meja. Sebuah patung tanah liat berbentuk Naga terlihat tajam melirikku.

Kupejamkan mataku dan langsung merebah. Detak jantungku mendadak menjadi cepat. Sesak dan pusing langsung terjadi begitu saja. Aku roboh, aspirin yang ku telan tak mampu meredakan sakitku.

Nafasku terasa berat. Terasa ada sesuatu menyumpal dan besar. Membuatku agak terengah dan langut berkeringat dingin. Keningku demam tapi kaki dingin seperti es. Kesadaranku melemah. Aku mati rasa.

Dalam temaram, mataku menangkap bayangan. Sesosok hitam berdiri disisi lemari kamarku. Gigi putih itu terlihat dari senyum yang merekah. Matanya merah dan tajam. Melirikku dan membulatkan bola matanya.

Aku diam terus melihatnya. Lidahnya dijulurkan,sangat panjang dengan ujung runcing. Taringnya sangat tajam dan besar. Terlihat ada sedikit noda merah dan cuilan daging.

Sosok itu terus mendekat. Mendekat. Dan memandangku nikmat. Aku serupa santapannya yang di lumuri saus tartar. Disunggingkan terus taringnya sambil sesekali menelan liuar.

Kukunya tajam. Ujungnya hitam. Tangan beruat dan berbulu itu begitu dingin menyekikku. Nafasku terngah. Leherku sakit dan kian membuatku menjemput ajal. Aku sekarat.

“aaaarrrghhh” teriakku kuat langsung terlompat dari kasur. Tubuhku penuh peluh. Bulu kudukku berdiri. Sekitar bola mataku dingin.

Kutengok kiri dan kanan. Semua masih sama. Tidak ada gerakan. Imaji bawah sadarku menakutkan.

***

“Dion! Kau terlihat kurus? Kemana saja? Kok lama tidak nongkrong disini” kata seorang teman yang sedang asik mengepulkan asab rokok di udara.

“Iya bro, lagi sibuk dengan kerjaan. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Baik?” tanyaku mengumbar senyum.

“Baik bro. Eh katanya kamu sudah putus dengan Yayan ya? Aku kemarin melihatnya jalan dengan remaja pria di Mall” katanya sambil memberiku rokok.

“Ah, aku berhenti merokok bro, benarkah Yayan sudah ada yang baru?Syukurlah. Semoga bisa lebih baik daripasa aku” jawabku singkat lalu duduk disamping temanku sambil memandang langit malam.

“Aku lagi nunggu Siska. Dia mengajakku ke bioskop. Apa kamu nanti sekalian ikut?” tawarnya langsung.

“Ah tidak usah. Nanti aku malah mengganggu kencanmu. Aku disini saja. Ingin lihat keramaian saja. Bosan di rumah, sepi” tolakku halus.

“Yasudah aku kesana dulu ya, takut jika nanti Siska tidak bisa lihat aku. Oiya, kamu cepat nyari pacar baru. Memang enak sendiri terus” katanya terkekeh dan langsung menginggalkanku.

“Haha iya nanti kalau sudah ingin akan cari lagi” jawabku singkat sambil tertawa.

Aku sekarang sendiri menatap keramaian. Entah kenapa, di rumah maupun di sini sama saja. Hati yang sepi tidak bisa dibujuk dengan tempat yang ramai. Percuma.

Sambil memainkan game di ponsel aku beranjak masuk ke dalam mall. Aku mencari toko buku untuk sekedar mencari kesibukan diantara kesibukan malam minggu ini. Aku melangkah lemas dan gontai menuju sudut bangunan yang memajang buku-buku new release.

Segera aku melangkah ke deretan rak. Ratusan novel terlihat melambai agar aku membacanya. Mataku menangkap kilapan cover novel. Ah, aku langsung terpikat dengan judulnya.

Segera aku raih dan berlanjut berjalan ke sisi lain ruangan. Mataku terus menikmati buku-buku baru. Aku hampir saja hanyut. Surga dunia sebenarnya adalah toko buku.

“Dion” suara yang kukenal mendadak ditangkap telingaku. Tangan hangat menyentuh pundakku dari belakang.

“Yan, kamu disini juga” jawabku sambil gelagapan saat menoleh. Yayan terlihat sedang membawa keranjang buku. Disampingnya ada cowok muda yang terlihat seperti anak sekolahan.

“Iya, sedang memilih buku buat dia. Kamu sedang mencari buku apa? Sini sekalian aku bayarkan” tawarnya langsung meraih bukuku. Namun aku segera merebutnya lagi.

“Tidak usah. Aku duluan ya. Sudah malam” aku langsung berlari ke kasir dan membayar buku.

Langkahku semakin cepat. Mataku sudah tak kuat lagi menahan air mata. Aku langsung mencari toilet untuk membuang beban. Di dalam bilik aku langsung melepas penatku. Tangisku pecah. Aku sesegukan hingga puas.

Kubasuh wajahku di westafel hingga bersih. Mataku sembab. Dari hidungku terlihat ada cairan merah. Aku mimisan lagi hari ini.

***

Goresan pensil aku torehkan di berlembar kertas di kasurku. Puluhan puisi isi hatiku berserakan di seluruh lantai kamar. Ada yang sengaja aku buat kapal, ada yang aku lipat menjadi bangau.

Kalender di meja terlihat aku silang nomor demi nomor. Badanku mulai kurus. Pergelangan tanganku mengecil. Pipiku terlihat kempes.

Aku tak pernah keluar lagi sambil terus menghitung setiap detik nafasku.

***

“Kau! Kucing sialan yang merusak Dion! Kesini kau!” teriak Yayan kepas lelaki yang sedang asik bermain billiard.

“Apa maksudmu?” seru lelaki yang mendadak di tarik kerah bajunya.

“Bukankah kau yang meniduri Dion! Mengaku saja!” teriak Dion langsung memukul laki-laki itu.

“Oh! Kau lelaki bodoh yang memukuli kekasihnya sendiri itu, cuih” lelaki itu mendesis dan meludah.

“Diam kau! Ini semua karena kau!” teriak Yayan memukul lagi.

“Betapa bodohnya kau. Aku ini cuma dibayar untuk membodohimu. Ternyata kau memang pria bodoh!” balas lelaki itu meninju muka Yayan.

“Apa maksudmu?” tanya Yayan mulai mengepalkan tangannya lagi.

“Sudahlah, pukuli saja aku. Aku memang dibayar buat kau pukuli juga. Ini pipi sebelah sini belum kau pukul” kata pria itu menantang.

“Kau!” gertak Yayan langsung mendorong lelaki itu dan meninggalkannya begitu saja.

***

Aku terdiam duduk di kursi. Hujan turun begitu deras sore itu. Kubangan air telihat memenuhi halaman rumah. Beberapa ranting pohon terlihat patah terkena angin.

Seorang pria terlihat hujan-hujan berlari menuju rumahku. Itu Yayan. Dia terihat tergesa-gesa berlari. Beberapa kali aku melihatnya terjatuh di kubangan.

Tok tok…

Pintu Kamarku diketuk. Ibuku masuk pelan dan langsung berjalan ke arahku.

“Yayan mencarimu di bawah nak, apa boleh aku bawa kesini nak?” tanya ibuku pelan.

“Jangan bu, bilang saja aku sedang pergi. Jangan sampai dia tahu keadaanku. Minggu depan aku mau menyepi ke villa saja. Aku mau menenangkan diri disana” kataku langsung berjalan ke kasur dan ambruk.

“Baiklah” kata ibuku singkat.

***

“Bu tolonglah, biarkan aku bertemu dengan Dion. Ini sudah kali ketujuhku kesini” Yayan merengek minta dipertemukan denganku.

“Maaf nak Yayan” jawab ibu singkat. Namun yayan langsung berontak dan berlari ke arah kamarku. Di dobraknya kamarku. Namun kosong.

“Kan sudah aku bilang nak Yayan, dia tidak ada di rumah. Dia sudah meninggalkan rumah seminggu lalu” kata Ibuku mencoba menenangkan Yayan.

Yayan terlihat mengamati kamar. Matanya menngekor mencari kejanggalan. Dibukanya kertas-kertas di meja. Dilihatnya kalender yang penuh tanda silang, dan sebuah kertas kematian dari dokter.

“Ini? Apa maksudnya ini Bu?” tanya Yayan membawa selebar kertas dengan tangan bergetar.

Ibu cuma diam dan menangis.

***

Hawa pegunungan sangat sejuk pagi ini. Kabut tipis masih menyelimuti rerimbun hutan pinus. Beberapa kumbang kecil terlihat mengerat batang pohon. Kumbang koski terlihat merayap dari daun daun hijau yang masih berembun.

Cecuit burung pagi menyamarakkan parade. Bersamaan dengan sorot berkas hangat matahari pagi. Menembus hutan. Menembus sepi. Menembusku.

Aku diam dan duduk di atas kursi dan memandang lepas keluar. Di depanku ada jalan setapak yang masih terjal berbatu. Entah kenapa aku terus menunggu. Menunggu.

Hariku hanya dilalui dengan berjemur pagi, lalu memasak. Dilanjut menulis cerita novel dan beberapa cerpen di blog. Semuanya kuhabiskan dengan tanpa harapan.

Sore itu aku sedang asik menanam tomat di kebun belakang villa. Aku mengorek-ngorek tanah dan sekedar menabur benih. Aku siram pakai air dan aku tepuk-tepuk. “Tumbuhlah yang cepat, biar aku bisa memetik buahmu” gumamku sambil tersenyum.

Aku bangkit agak lemas. Mataku sedikit berkunang dan semuanya menjadi gelap. Aku roboh.

***

“Dion, apa kau sudah sadar, bangunlah. Jangan membuatku panik” terdengar suara itu begitu mataku terbuka.

Yayan sedang panik di sampingku. Wajahnya terlihat pucat. Keringatnya berkucuran dimana-mana. Mulutnya terus saja menanyakan keadaanku.

Aku elus wajahnya. Aku lap keringatnya pelan. Setelah itu aku taruh jariku di bibirnya agar dia diam. Dan akhirnya dia memang diam.

“Dion apa kau tak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Aku baik-baik saja” jawabku sambil tersenyum.

“Kenapa kau tak menceritakan semua ini kepadaku? Kenapa kau tak jujur dengan penyakitmu ini?” tanyanya terus tanpa henti.

“Aku tidak mau melihatmu sedih. Terus terang ini juga salahku. Aku tidak pernah mendengarkanmu 5 tahun lalu. Seharusnya aku tidak berhubungan dengan pria busuk yang hanya menggunakanku untuk pemeras lendirnya” jawabku pelan.

“Sejak kapan kau tahu sudah positif HIV?” tanyanya sambil mengelus rambutku.

“Empat bulan setelah aku berpisah dengan iblis itu aku memeriksakan tubuhku dan aku dinyatakan positif HIV. Memang 3 bulan setelah tertular akan diketahui positif atau tidaknya. Baru sekitar 2bulan lalu HIV itu sudah menjadi AIDS. Perlu 5 tahun inkubasi penyakit mematikan ini” jawabku singkat.

“Jadi selama 5 tahun ini kau menyembunyikannya dariku?” tanya Yayan sambil menaikkan satu alisnya.

“Begitulah, lima tahun ini aku terus berdoa. Tetapi memang ini kutukan untukku. Ganjaran atas kelakuanku di masa lalu” jawabku mulai bangkit dan duduk di samping Yayan.

“Apa mantanmu dulu tak pernah menggunakan pengaman?” tanya Yayan terlihat hati-hati. Aku cuma diam dan mengangguk.

“Aku menjauhimu dan menjauhi lingkungan sosialku agar semua tidak terganggu dengan keadaanku. Aku tahu ODHA Orang Dengan HIV AIDS akan selalu di kucilkan” jawabku sambil mengelus rambut Yayan.

“Tidak, aku seperti itu. Sekarang bukan jaman orang kolot yang hanya karena ODHA langsung dijauhi. Justru kami akan mendukung dan terus memberi semangat hidup” jelas Yayan sambil tersenyum.

“Terimakasih” jawabku singkat.

“Kenapa kau sampai membayar pria bayaran? Apa agar aku meninggalkanmu?” tanya Yayan sambil melirikku.

“Hehe, aku tidak tahu cara bagaimana mengusirmu” kataku singkat. “Sebentar, aku akan ambilkan sesuatu untukmu” aku berjalan lemas ke dalam sambil meraih kumpulan kertas puisi.

“Ini untukmu. Penebus atas semua yang telah aku lakukan padamu” kataku sambil tersenyum.

“Bolehkah aku tidur dipangkuanmu?” kataku singkat langsung merebah dipangkuannya. “Aku sangat lelah dengan semua ini, semoga hidupmu selalu indah” sambungku langsung memejam.

***

“Dion bangun, ini sudah sore! Dion? Dion!”

Setetes cairan bening mengalir dari mata Yayan. Mukanya tertunduk memandangi mukaku.

“Jangan bercanda lagi! Sudah jangan lama bermain main dengan tidur. Bangunlah. Aku belum membacakan ratusan puisi yang kau buat”

“Dion! Bangun!”

***

Tuhan, Aku Takut…

Langit masih berbintang,
Membaur bak serbuk putih yang ditata indah,
Kala aku tertusuk,
Dan ruang hatiku menyempit,

Mentari pagi hangat,
Memberkas warna kemilau selimuti jagat membisu.
Saat puing tajam menghujam,
Mengikis perlahan dinding kokoh semangat,

Tuhan,
Jujur ku katakan kepadamu,
Aku salah!

Silir cinta yang kau hembus padaku membuatku sadar,
Yah, terbangun dari dosa.

Takut,
Aku sungguh takut padaMu,
Tak sanggup aku dengan ini.
Sungguh.

Tak ada daya buatku,
Membuat orangtuaku memilu,
Atas apa tingkahku,

Tuhanku,
Aku takut,
Hatiku menciut,
Menahan sesak tak berhenti.

Namun Tuhan,
Kalaupun ini jalan Mu,
Aku ikhlas,
Menikmati setiap ujiujiMu.

Tuhan aku hanya takut padaMu..

***

Meyambut Hari AIDS sedunia 1 Desember. AIDS adalah sebuah realita kehidupan, semua golongan manusia bisa terancam. Tidak ada label label manusia, semua sama rata.

Kita harus menjauhi penyakitnya, tapi bukan penderitanya.

Tema peringatan HIV AIDS 2011 adalah “Getting to Zero” dengan 3 bagian, diantaranya.

– Zero new HIV infections.
– Zero discrimination.
– Zero AIDS-related deaths.

Mampukah kita mengenolkan?

Salam blogger!