Gemintang berpendar biru subuh itu. Tubuhku teronggok di bawah rerimbun akasia. Mata sayuku menangkap temaram berkas purnama satu. Bersama sepoi sejuk bayu pagi yang membelai telingku.

* * *

Aku terdiam. . .
Aku tertunduk. . .
Aku terawang. . .

Sebenarnya aku hidup untuk apa? Itulah pertanyaan pamungkas yang sulit ku jawab. Aku hidup di bumi ini fungsinya untuk apa? Pemanis? Pemahit?

Perlukah aku punya tujuan hidup? Perlukah aku mendamba indah kesuksesan?

Jika hidup cuma berlakon sampah masyarakat sepertiku apa bisa meraung-raung menuntut keadilan? Tak tahu kenapa aku bisa menjelma serupa bangkai terbusuk yang membawa milyaran bakteri mematikan. Sementara aku cuma diam. Diam dan bersujud.

Topeng hipokrit yang terpasang seakan tak bisa terlepas. Tersegel dan terpatri apik di sisi pipi kemunafikan. Tapi ini di puja. Kebenaran mayoritas mutlak dan telak.

Ruang gerakku teriris sekat demi sekat. Tak ada sisi muka yang pantas buatku, menurut mereka! Mereka yang tegak bersangga ideologi konstruksi alamiah.

Jika diperbolehkan aku ingin menyusup kembali ke hangat rahim ibuku. Disana aku nyaman. Selalu dibelai. Tak dibelai celaan terludah yang menyemburku.

Hahahaha. . .
Hidupku lelucon panggung ketoprak.

* * *

Ku berjalan menyusur gundukan tanah berpasung. Melewati puluhan jasad terpendam bisu yang kenyang mengecap kefanaan. Langkahku terhenti di sungai kecil beralir jernih. Ku celup tanganku, kubasuh gincu tebal di muka.

Surau memanggilku.