“Diam! Kau tak usah ikut campur atas apa yang kau lakukan!”

“Kau tak usah terlalu perhatian denganku! Apa kau gay? Hah!”

* * *

Bel sekolah berdering sangat keras. Suasana kelas terlihat mulai riuh. Berpuluh anak sudah sibuk menyambar tasnya untuk beranjak pulang.

Bersamaan dengan itu hujan turun dengan deras. Hujan disertai angin mengguyur dengan cepat. Tak pelak beberapa siswa mengurungkan niatnya untuk segera pulang.

“Ga, pulangnya nunggu hujan reda saja” kata cowok tinggi berkacamata dengan menyampirkan tasnya disebelah kiri.

“Iye Bim cerewet banget jadi orang, ntar aku yang nyetir motornya ya” kata cowok dengan topi bermerek terpasang miring dikepalanya.

“Woy Naga, apa kabar sob? Nanti malam datang kan? Anak-anak sudah nunggu tuh” kata cowok berjaket model army dan bersepatu sport biru.

“Sip nanti datang, tunggu saja. Malam ini aku bakalan menang!” seru Naga semangat.

“Oke aku kesana dulu, mau jemput yayang. Bye!”

“Bim, aku nanti malam mau jalan. Kamu jaga rumah ya. Bilang kalau misal ayahku pulang, oke?” kata Naga singkat.

“Lhah? Bukannya nanti kakek datang. Kok malah kamu malah pergi” tanya Bimo bingung.

“Halah, si tua paling datang juga masuk kamar. Jadi tidak penting juga aku ada apa tidak” jawab Naga ketus.

“Yasudah terserah”

* * *

Jam dinding sudah menunjukkan 5 di jarum penjang dan 9 di jarum panjang. Udara kian dingin sisa hujan tadi sore. Lampu jalanan dipenuhi serangga-serangga malam yang asik berputar. Sesekali terdengar merdu katak-katak yang sedang masa kawin.

“Bim, aku mau keluar dulu. Kamu jaga rumah, nanti kalau aku pulang bukain. Tak mungkin tua bangka mau bukain pintu” kata Naga dari depan pintu kamar Bimo.

“Ga, jangan keluar. Habis hujan, masa kau mau balapan?” sahut Bimo yang sedang asik membaca buku.

“Alah, tugasmu cuma bukain pintu saja. Urusan yang lain jangan ikut campur!” bentak Naga tak suka di ceramahi.

“Bahaya Ga, nanti kalau sampai jatuh bagaimana? Aku bisa dimarahi ayahmu karena tak mengawasimu” sanggah Bimo sambil menutup bukunya.

“Ah Bimo, kamu diam saja! Kamu ini cuma numpang disini. Ayahku saya tak mengurusiku. Kenapa kau ini over kepadaku? Kau tak sedang suka denganku kan? Kau bukan gay kan?” desis Naga menaikkan nada bicaranya.

“Bukan begitu, aku cuma ingin menjaga amanat ayahmu” sahut Bimo sambil berdiri.

“Ah diam! Ini bukan urusanmu!” teriak Naga sambil memukul-mukul pintu.

“Ga! Jangan pergi!” balas Bimo berteriak juga.

“Diam kau homo! Jangan banyak omong!” teriak Naga lagi langsung berlalu menuju keluar.

“Ga! Jangan pergi!”

* * *

Jalanan terlihat benar-benar lengang. Hanya beberapa saja motor atau mobil yang lewat. Naga mengendarai motornya dengan sangat cepat. Beberapa kali meliuk di belokan bak pembalap GP.

Naga melaju menuju ke salah satu sisi jalan yang biasanya digunakan balapan liar. Dia termasuk salah satu gang motor di kotanya. Namanya termasuk paling disegani dengan kemampuan balapnya yang mengagumkan.

“Woy Setan Jalanan, tumben kau telat?” tanya cowok dengan tato kanji jepang di lehernya.

“Halo mas bro, iya nih, biasa babysitter susah ngasi izin” kata Naga sambil tersenyum kecut.

“Halah ngeles tu si Naga bro, bukan babysitter tapi pacarnya, hahaha” sahut cowok berbadan tambun.

“Wah minta di hajar anak ini, ngomongnya asal-asalan woy Rega!” desis Naga melirik tajam.

“Hahah, ampun bro bercanda lagi. Tapi ngomong-ngomong dia itu siapa? Kok nguntit kamu terus. Hidup pun juga di rumahmu” tanya Rega lagi.

“Dia? Gatau juga, dulu mendadak dia di bawa ayahku. Orang kepercayaan ayah. Tapi bagiku dia itu cuma pesuruh saja” jawab Naga ketus.

“Jahatnya kau Ga, padahal dia perhatian banget sama kamu” sahut cowok bertato di leher.

“Halah cuma sok-sokan saja. Bilangnya mandat dari ayahku. Agar dia jagain aku. Ah, aslinya cuma cari muka saja” desis Naga sedikit naik darah.

“Lain kali kita kerjain aja bro, biar kapok” sahut Rega sambil terkekeh.

“Boleh juga, ahaha!” tawa Naga keras.

* * *

“Bim kamu pulang saja, aku masih ada urusan di luar” seru Naga langsung nyelonong keluar kelas.

“Oh, baiklah kalau begitu” sahut Bimo singkat.

Bimo terpaksa pulang dengan naik bus umum. Biasanya dia pulang pergi membonceng Naga. Bisa dibilang sebagai tukang ojeknya.

Bimo adalah anak dari saudara jauh Naga. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Dan sejak itu dia tinggal di rumah Naga atas permintaan Pak Sasmito, ayah Bimo. Dengan harapan bisa memberi Naga teman bermain, karena Naga adalah anak tunggal.

“Aku cabut dulu, bilang aku lagi ada urusan penting kalau si tua tanya, ok?” seru Naga semangat.

“Iya Ga, nanti aku sampaikan!” desis Bimo.

* * *

Hujan mulai mengguyur lagi. Kali ini bersambut dengan angin kencang mirip badai. Pohon-pohon terseok dan banyak yang rantingnya patah. Suara gemuruh juga terdengar membisingkan telinga.

“Le cah bagus, Naga belum pulang?” tanya Kakek Naga.

“Belum pulang mbah, tadi katanya ada urusan penting” jawab Bimo singkat sambil mengaduk-aduk nasi karon berwarna kuning.

“Sudah mateng nasi kuning nya le? Maaf simbah tidak bisa bantu” kata Kakek Naga pelan.

“Ah, tidak apa-apa mbah sudah terbiasa masak saya. Mbah duduk saja di situ” tanggap Bimo pelan.

“Lauknya sudah matang semua le?” tanya simbah sambil memeriksa meja.

“Sudah mbah, tadi saya buat kering tempe, perkedel sama mie dan srundeng” jelas Bimo sambil mulai menanak nasi karonnya.

“Wah sip le, tinggal nanti dibentuk tumpeng dan nunggu Naga pulang” seru Kakek Naga senang.

“Iya mbah semoga nanti dia suka dengan kejutan kecil kita” seru Bimo sambil tersenyum.

* * *

#drrrrttt drrrrt ponsel Bimo berdering#

“Halo ini siapa?” tanya Bimo.

“Bim, ini Rega. Kamu cepat datang kesini. Naga kecelekaan. Cepat ya Bim” kata Rega sedikit panik.

“Hah? Yang benar? Duhh bentar-bentar aku akan kesana” sahut Bimo kaget.

“Cepat Bim, di dekat lapangan kompleks. Cepat!”

Bimo langsung lari tunggang langgang. Tak ada waktu lagi hanya cuma untuk mencari payung atau jas hujan. Dia berjari begitu saja di tengah guyuran hujan. Bimo berlari menuju lapangan kompleks. Jaraknya sekitar 10menit jika terus berlari.

Mendadak larinya terhenti begitu melihat Rega melambainya.

“Reg, mana Naga? Apa dia baik baik saja?” tanya Bimo khawatir.

“Ayo ikut aku cepat dia ada disana” kata Rega terlihat bermuka pucat.

Mereka akhirnya berjalan pada suatu halaman rumah. Terlihat banyak orang yang bergerombol disana. Seperti mengerumuni sesuatu.

“Kau sudah datang Bim, cepat sekali?” seru Naga sambil terkekeh.

“Lho Ga? Kata dia kau sedang kecelakaan” seru Bimo sambil menunjuk Rega.

“Itu mah cumah akal-akalan dia saja” desis Naga singkat.

“Noh kan bener kataku, dia itu maho, lihat dia khawatirin kamu, suka sama kamu tuh” celutuk Rega.

“Ayo kita kerjain dia saja” seru cowok tambun disamping Naga yang langsung menyambar kerah baju Bimo.

“Woy bantu pegang dia, kita tali saja di tiang sana” seru Rega semangat.

“Eh, apa-apaan ini, jangan lakukan ini, woy” teriak bimo dikeroyok 6cowok.

“Haha, makanya jadi orang jangan belagu, soksokan perhatian, soksokan ngatur. Kamu itu cuma pesuruh dia!” teriak Rega di telinga Bimo.

“Ayo cepat tali dia disana, telanjangi juga sekalian!” teriak beberapa cowok di belakangi.

“Biar dia tahu malu sedikit” seru Rega terkekeh.

“Lepaskan apa yang kalian lakukan!” berontak Bimo yang kalah dipegang beberapa orang.

“Diam kau!”

Beberapa anak sempat meninju perut Bimo. Ada yang memukul wajahnya. Sementara Naga cuma diam saja melihat itu. Diam tanpa bergerak untuk membantu.

Bimo tertali di tiang. Tubuhnya telanjang dengan beberapa lebam di wajahnya. Beberapa darah mengalir di tubuhnya yang terguyur hujan.

Merunduk dan terus menangis. Bimo tak bisa menahan sakit bercampur dingin. Tubuhnya menggigil dan mulai hilang kesadaran.

“Kita tinggal saja yuk, ayo cari makan yang anget-anget. Tubuhku basah kuyup menghajar cecunguk itu. Kamu yang trakti ya Ga, kan kamu lagi ultah” seru Rega yang puas mengeksekusi mangsanya.

“Tapi dia bagaimana?” sahut Naga terlihat gusara.

“Alah biarin saja dia, nanti juga bangun dan pulang sendiri” sahut pria tambun yang tadi mulai mengeksekusi.

“Tolong lepas talinya dulu” sahut Naga pelan.

“Iya iya, khawatir ya sama babunya?” sahut Rega terkekeh.

Bimo akhirnya ditinggal sendiri disitu. Diam, tengkurap dengan tubuh terus terguyur hujan. Nafasnya sudah semakin berat. Tubuhnya semakin biru dan menggigil.

* * *

Setelah menghabiskan uang untuk mentraktir temannya Naga pulang ke rumah. Langit sudah terlihat gelap walau hujan masih gerimis. Kekeknya terlihat menunggu di teras rumah dengan muka cemas.

“Kau baru pulang Ga? Kakek sudah menunggu dari tadi” saru kakeknya begitu melihat Naga memarkir motor.

“Biasa kek, namanya juga anak muda, jadi main dulu” sahut Naga ketus.

“Yasudah ayo masuk dulu, tadi Bimo sudah masakin kamu tumpeng buat ultahmu” kata Kakek langsung menuntun Naga ke ruang makan.

“Ini dia yang masak Kek? Sendiri?” tanya Naga heran.

“Tentu saja, mana mungkin kakek yang masak. Dia ternyata pintar masak ya. Beruntung sekali kau punya saudara seperti dia” kata kakek sambil tersenyum.

“Ingat kek, dia itu bukan siapa-siapaku. Dia bukan juga saudara!” desis Naga kesal.

“Oiya ini kado dari dia, tadi di titipin kakek. Dia tadi mendadak panik dan lari begitu saja. Sementara saat ku tanya dia tak menjawab” sahut kakek sedikit khawatir.

“Jadi dia belum pulang?” tanya Naga singkat sambil membuka kado.

Di dalam kado ada sebuah jam tangan dan sepucuk surat. Naga kemudian membaca surat itu.

– – –
Halo Ga, selamat Ultah ya!
Kau sudah 17tahun, kuharap kau bisa tambah dewasa dan semangat dalam belajar.

Maaf jika kadonya cuma jam tangan murahan. Tapi itu aku beli dengan uangku sendiri.

Semoga kau selalu menjadi orang yang dibanggakan Ayahmu.
– – –

“Belum pulang, sudah 3 jam. Mana tadi hujannya sangat deras. Kakek khawatir, dia tak bawa payung” jawab kakek singkat.

“Dia sendiri yang berinisiatif membuat tumpeng. Katanya mau memberi kejutan kecil sekaligus selamatan buat kamu biar kamu jadi orang yang tambah baik dan dewasa” sambung kakek mulai mengambil piring.

“Ini gila!” desis Naga langsung berlaru keluar dan memacu motornya keluar rumah.

“Nak kamu mau kemana?” teriak kakek mengikutinya keluar.

“Aku mau mencari Bimo dulu” sahutnya langsung menancap gas.

* * *

Langkah naga terlihat cepat begitu memarkir motornya di tempatnya berkumpul tadi. Ekor matanya langsung mencari keberadaan Bimo. Tapi, nihil. Tak ada seorangpun di situ.

Hanya terlihat kemeja yang tadi dikenakan Bimo. Terlihat noda darah di kemeja itu. Naga berteriak dan berkeliling mencari Bimo dengan panik.

“Bim kamu dimana Bim? Jawab Bim?” teriak Naga keras keras.

“Bim!” teriak Naga lagi.

Sesaat kemudian seperti terdengar suara orang menggigil. Suara nafasnya terdengar seperti sesak. Ada sesuatu yang bergerak di balik tembok itu.

“Bim, kau kah itu?” teriak Naga langsung mendekati tembok itu.

“Bim, bangun Bim” Naga panik melihat Bimo menggigil setengah sadar.

Segera diangkatnya ke depan dan membonceng Bimo pulang.

“Pegangan Bim, jangan sampai jatuh” kata Naga mulai menyalakan motornya.

* * *

Bimo terbaring lemas di kasurnya. Tubuhnya terus menggigil tak mau berhenti. Mulutnya bicara tak sadar dengan demam yang kian tinggi.

“Ga, maaf jika sudah merepotkanmu. Jika kau tak suka denganku, aku akan pergi dari rumahmu dan kembali ke tempat asalku”

“Apa kau tahu Ga, begitu melihatmu pertama aku sangat bahagia. Aku menemukan keluargaku lagi setelah ayah ibuku wafat”

“Kau itu tak hanya teman, kau itu saudaraku. Kau aku anggap kakak laki-lakiku. Meskipun aku tahu kau tak suka denganku”

“Aku dedikasikan hidupku untuk menjadi saudaramu. Aku perhatian atau apa juga karena kau saudaraku. Kau keluargaku yang tersisa sekarang”

“Aku akan pergi jika kau tak menginginkanku jadi saudaramu. Aku akan menghilang dari hidupmu”

“Apapun yang terjadi kau tetap saudaraku”

Naga cuma diam.

Matanya terasa pedih.

Hatinya sangat tersentil.

* * *

Seminggu Kemudian.

Langit siang terlihat cerah. Awan putih menggantung indah. Beberapa burung pipit terbang antar dahan sambil terus mengoceh.

Bimo terlihat asik mengemasi baju dan barangnya dikoper sambil dibantu kakek. Hari ini dia akan pulang ke desa. Akan pindah sekolah kesana.

“Sudah dipikir dulu nak, benar mau pindah?” tanya kakek sambil membantu menata barang.

“Iya Kek, mungkin ini lebih baik” kata Bimo sambil tersenyum.

“Yasudah nanti tak antar sampai terminal ya” kata Kakek singkat.

“Naga belum pulang kan kek? Jangan bilang jika aku mau pergi” desis Bimo menyelesaikan packing.

* * *

“Kau mau kemana Bim?” tanya Naga saat memarkir motor.

“Mau pergi, balik ke kampung lagi. Jaga diri ya, semoga kau lancar saja disini” seru Bimo tersenyum singkat.

“Kau! Siapa yang menyuruhmu pergi!” teriak Naga dengan nada tinggi.

“Kejadian kapan hari sudah cukup bilang kan?” jawab Bimo singkat.

“Kau ini” sahut Naga langsung menyambar koper Bimo.

“Ga, berikan kopernya!”

“Kau tak boleh pergi dari sini! Jika kau pergi siapa yang akan menemaniku! Siapa yang akan mengajariku!”

“Siapa yang akan jadi sodara laki-lakiku jika kau pergi!”

“Aku bukan saudaramu, ingat itu Ga” desis Bimo merebut koper.

“Kau itu saudaraku!” teriak Naga melepar koper Bimo ke teras.

“Aku kesepian, hanya kau saudaraku!” seru Naga sambil menangis.

“Jangan pergi!”