Tsuyu kusa ya
tsuwamonodomo ga
yume no ato

Rerumputan musim hujan,
mengingatkan akan impian para
tentara yang berani.

Haiku di atas adalah milik dari Basho. Seorang penyair besar jepang yang juga dikenal sebagai pencipta haiku. Namun saya menyesuaikan sedikit dengan keadaan di Indonesia.

Kata “Tsuyu : musim hujan” aslinya “Natsu : musim panas”. Karena di Indonesia tercinta sekarang sedang penghujan, jadi iseng aku rubah sedikit. Namun tidak merubah esensi dari haiku di atas.

Haiku itu menceritakan tentang rerumput pada musim hujan. Ya, karena pada saat penghujan rumput akan jadi hijau. Subur dan terlihat indah menghijau.

Tapi pernahkah sahabat bayangkan beberapa tahun lalu rumput itu bersimbah darah?

Rerumput hijau itu saksi bisu dari perjuangan pahlawan. Rerumput itu perekam peristiwa berdarah. Lengkap dengan guyuran hujan. Rumput itu tumbuh dari berliter darah pahlawan yang meninggal.

Dengan melihat rerumput yang kini makin menghijau. Hendaknya mengingatkan kita bagaimana dulu perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan.

Melalui bau basah hujan dan bau rumput, impian para pejuang disimpan.

Mimpi pejuang yang besar. Apakah kita tahu impian itu?

Apa sebenarnya impian dari para pejuang pemberani kita?

Era sekarang memang kita tak akan berjuang menggunakan bambu runcing. Tak juga menggunakan pistol atau bom mesiu. Musuh kita bukan penjajah. Musuh kita ketidakadilan.

Mungkin ketidakadilan disini cakupannya luas. Mulai dari hukum hingga pendidikan. Itulah musuh yang harus kita basmi.

Berjuanglah sesuai profesi masing masing. Banyak sekali aspek yang harus diperjuangkan.

Jadilah pahlawan, jangan cuma mengenang pahlawan!

Kitapun harus mau berkorban, bukan cuma mengenang pengorbanan!

Karena banyak impian pahlawan yang belum terwujud. Bambu kita masih runcing kawan untuk berjuang!

Salam Blogger!