Malam ini masih seperti biasanya. Aku diam dipojok tempat tidurku, memeluk guling dan memutar radioku yang berbaterai. Channel selalu menunjuk di angka 89 FM, acara musik favoritku. Acara musik klasik jadul yang selalu membuatku melayang hingga lelap berkalang mimpi-mimpi yang indah.

Lagu yang paling aku suka adalah lagu klasik dari Mayumi Itsuwa dengan judul Kokoro no tomo. Lagu jepang yang jelas aku tidak menahu artinya. Namun aku dapat merasa emosi dari lagu itu. Aku benar paham dan hafal lagu ini hanya dari melodinya.

***


Ai wa itsumo rarabai

Tabi ni tsukareta toki

Tada kokoro no tomo to

Watashi wo yonde

***

Angin pagi berhembus dari celahcelah anyaman bambu yang jadi penutup rumahku. Membuai telinga dan kaki tanganku. Membuatnya dingin dan bergidik. Ah, dinginnya pagi selalu membuatku terjaga. Aku langsung turun dari tempat tidurku. Melangkahkan kakiku ke dapur bersiap untuk memasak air dan membuat kopi untuk ayah.

Sejak kecil aku cuma tinggal dengan ayahku. Lelaki yang mungkin orang kira adalah kakekku. Karena raut muka yang penuh keriput. Lengan dan kakinya begitu legam di bakar panasnya matahari. Beliaulah orang yang paling aku sayang dan satu-satunya temanku.

Setiap pagi beliau harus pergi untuk kerja. Aku tak tahu apa pekerjaan beliau. Karena beliaupun tak pernah memberitahuku. Yang jelas ayah selalu berkata jika yang dilakukannya adalah baik. Uang yang ia hasilkan adalah halal.

Ayah pergi sehabis subuh dengan membawa tas kecil yang diselempangkan. Bebekal senyum yang tak pernah hilang sejak puluhan tahun lalu. Aku mencium tangannya sebelum ia melangkah dan menghilang dalam kegelapan pagi.

***

Jam sudah menunjuk di angka 6 pada jarum pendek di angka 1. Jam seperti ini biasanya aku ke belakang rumah. Mendaki bukit kecil untuk meyerap udara pagi yang segar. Rutinitas ini sudah hampir lima tahun aku lakukan.

Di puncak bukit aku lebarkan tanganku. Ku tengadahkan kepalaku ke atas menghirup udara pagi sekuatnya. Kupejamkan mataku perlahan, kubuka mulutku dan berteriak. Namun usahaku yang bertahun ini percuma. Hembusan angin masih mengalahkan keras suaraku.

Aku memandang lepas ke sekitar bukit. Hamparan hijau begitu luas. Alam masih perawan dan tak terjamah manusia serakah. Cecicitan burung pagi terdengar bersahut membangun simfoni pagi yang menggetarkan jiwaku.

Menjelang siang aku kembali ke rumah. Membersihkan semua isi rumah dan mengolah ladang sayurku. Semua aku lakukan seorang diri, karena aku tidak mungkin bekerja dengan fisik seperti ini. Badanku terlalu lemah dan suaraku tersembunyi rapat di sekat-sekat hatiku.

***

Siang aku kembali kepojok tempat tidurku, merangkul guling kesayanganku. Aku lepas baterai dan mengganti dengan yang baru aku jemur di terik matahari. Acara siang ini adalah storytelling. Penyiar dengan kemampuannya becerita mengisahkan cerita yang di kirim pendengar. Lengkap dengan alunan musiknya. Sungguh acara yang menurutku luar biasa.

Sebenarnya, karena acara inilah aku jadi gemar menulis. Sepertinya menulis itu suatu hal luar biasa. Menuangkan ide dan bahkan menuliskan mimpiku. Mimpi yang entah bisa terwujud atau cuma angan saja. Yah, aku masih punya mimpi.

Kumainkan gitarku perlahan. Mengubah mimpiku menjadi lantunan nada yang saling beradu. Ku bernyanyi dengan hatiku meresapi keheningan siang. Sendiri.

***

Pagi ini agak sedikit aneh. Mendadak hujan datang dengan derasnya. Suara angin terdengar seperti mengamuk. Membuatku takut untuk beranjak dari ranjangku. Kulihat ayah sudah masuk ke kamarku, meletakkan secangkir teh di meja. Senyumnya masih sama, sangat indah.

Hujan akhirnya reda, dan bapak bisa berangkat kerja. Aku segera ke bukit belakang untuk menghirup udara pagi yang segar. Aku pandang sekitar bukit terlihat sesosok manusia. Seorang gadis rambut sebahu sedang berjalan.

Esoknya sosok itu masih terlihat lagi, lagi dan lagi. Entah kenapa aku selalu menantikan pagi agar aku bisa melihatnya. Mengaguminya dari kejauhan tanpa mengharap apa-apa. Pagi semakin mengasikkan.

Malam itu aku putuskan untuk membuat lagu. Lagu yang aku dedikasikan buatnya. Wanita yang selalu aku amati dari kejauhan. Lagu yang mungkin tak akan pernah aku ucap syairnya.

Semalaman aku membuat lagu. Menulis lirik dan membuat musik pengiringnya. Sambil membayangkan sosok itu yang aku kagumi setiap pagi.

***

Pagi itu aku ke atas bukit. Namun aku membawa gitarku. Aku ingin menikmati pagi dengan memainkan laguku. Sembari menikmati sosok itu yang menjadikan aku gila.

Terlihat sosok itu berjalan perlahan. Begitu melihat kumainkan gitarku. Kunyanyikan keras-keras liriknya dalan hatiku. Sambil terus melihatnya hingga ia tak terlihat lagi oleh mataku. Aku lakukan itu setiap pagi setiap hari tanpa lelah. Hanya ingin melihatnya.

***

Pagi ini terlihat mendung sekali. Walau tidak hujan namun terlihat akan ada hujan yang cukup deras. Namun aku tetap saja pergi ke bukit dengan menenteng gitar. Untuk memainkan laguku dan menunggunya lewat.

Rinai hujan sudah mulai nampak. Rintik mengenai rambutku dan kulitku. Hujan pagi yang turun membuatk basah. Namun tak juga sosok itu terlihat, lama aku menunggu namun percuma. Tapi tetap aku mainkan gitarku di bawah guyuran hujan. Dingin dan sangat dingin.

Ku langkahkan kakiku menembus hujan. Setelah beberapa kali memainkan gitar aku putuskan pulang ke rumah. Mungkin hari ini aku tidak beruntung saja. Sambil tertunduk lesu aku terus menyusuri jalan untuk pulang.

***

Terlihat siluet di depanku. Kupandang perlahan apa yang di depanku. Dia, sosok itu ada di depanku. Aku mematung dan kutundukkan lagi kepalaku. Aku yakin mukaku sekarang sangat merah karena malu.

” halo, kamu baru pulang ya? ” dia bertanya padaku, aku cuma diam dan terus menunduk. Ia mendekat dan membagi payung denganku.

” apa kau tadi masih memainkan musik saat hujan? ” tanyanya lagi semakin membuatku malu dan kaku. Akhirnya aku beranikan menatapnya dan tersenyum pelan.

” aku tahu sebenarnya kau setiap hari melihatku, aku tahu juga kau selalu memainkan lagu untukku,” aku langsung kena skak mat olehnya. Namun aku terus berusaha menjaga agar mukaku tidak semakin merah dan meledak.

” maukah kau memainkannya untukku? Walau aku belum mendengar namun aku tahu itu pasti bagus,” dia memintaku untuk bernyanyi. Aku cuma mengangguk pelan dan berlalu masuk ke dalam rumah. Ku ambil lyric yang aku tulis. Aku keluar dan menyerahkan padanya.

” apa aku yang bernyanyi? ” katanya saat menerima lyric. Aku cuma tersenyum simpul. Lalu aku mulai mainkan musiknya dengan gitarku.

Indah pagiku

surya bergelayut indah,

berkasnya hangat belai kulitku,

kuhirup segar ini,

merambat liat masuk ke pori,

jagat merekah,

cicit pagi mulai membahana,

bersama asa jiwa,

songsong indah indah karunianya,

* Pagiku indah karnamu,

gemulai gerakmu buatku terpaku,

sosok lembut serupa bulan,

bius aku serasa berselimut awan,

Oh penyejuk pagi,

Baurmu dengan alam begitu sempurna,

Warnai celah yang masih putih,

Dengan pesonamu yang rupawan,

Back to *

Aku cuma disini,

Di atas hijau berbukit,

Mengagumi alam,

Mengagumi sosok indahmu.

….

Terlihat matanya berbinar saat menyanyikan laguku. Suaranya sungguh sempurna. Membuatku semakin malu tak berani berlama memandangnya. Ah, Tuhan seumpama aku dibolehkan sekali saja berbicara. Aku akan bilang jika aku sangat mengagumi wanita ini.

Tiba-tiba ia meraih telapak tanganku. Tanpa ragu dia kucup perlahan. Aku langsung merinding dan sudah tidak bisa menahan malu.

” Terima kasih lagunya, sangat indah,” dia memujiku setelah menyanyikan laguku. Padahal aku seharusnya memujinya, suaranya itu sungguh indah. Begitu terdengar jantungku langsung bertambah cepat detakannya.

“apa kau menyukaiku? jawablah! ” dia bertanya. Aku tak mungkin menjawab. Aku tak bersuara.

Aku tatap matanya, lalu aku coba gerakkan mulutku walau tiada guna. Aku ucapkan, ” aku sayang kamu” tanpa ada suara. Dia tersenyum dan langsung memelukku.

” aku bisa melihatmu berbicara dengan matamu, aku bisa melihat kau bernyanyi dengan hatimu. Karena kata dari hati lebih bisa dipercaya dari yang keluar dari mulut ” bisikannya kepadaku saat kita berpelukan.

Aku berjanji akan terus bernyanyi di dalam hatiku, untukmu.

22 September 2011