Mukaku membiru, berbalut kelu yang terhambur sempurna di mataku. Rinai-rinai semakin terekam jelas. Mengucur melintas pori yang enggan membuka. Aku menggigil bersetubuh dengan dingin. Getaran rahangku nyaring memadu deretan gigi-gigi membentuk simfoni. Aku terseok berkalang lembaran dedaunan yang rontok di silir sang bayu. Temaram dalam laksa-laksa harap.

Entah kenapa dimensi ini semakin tebal. Menyekat tanpa iba, meregang dengan suka. Kita semakin jauh dan terus jauh. Kilatan cahaya butuh milyaran tahun menyentuhmu. Desau rinduku bak debu angkasa yang langsung lenyap tersapu luas jagad. Sinkronasi hati kita melemah. Hatiku jauh.

Nyanyikan lagi lagu itu. Bait terindah yang kau dendangkan penuh cinta. Aku merindu saat itu wahai sayangku. Desir-desir ini semakin kuat menyesakku. Membuatku terambing menembus batas logikaku. Katakan sekali saja kau mencintaku. Tak apalah itu cuma manis kebohongan. Karena hanya itu penyulut nyawaku. Aku sekarat.

Ingatkah duhai pandora bermata jingga. Hari ini adalah momen penting buat kita. Namun teramat yakin jika kau pasti telah mengubur memori itu. Menumpuknya dengan lembar kisah barumu dengannya. Hey, apakah senyum simpulmu, hangat dekapanmu juga kau berikan kepadanya? Semerbak cendana cintamu kepadaku jua kah kau poles untuknya?

Masih berguyur hujan ku bersimpuh. Menengadah menyerap titik demi titik dingin yang kian membara menyapaku. Poriku membuka perlahan. Menerima tetusukan yang merajam sempurna. Hatiku beku dan mengeras batu. Kasih, aku menahu kau miliknya. Bukan milikku. Namun lirih getaran ini terus mengisyarat. Kau barisan depan pengisi sekat ruang rinduku.

Buih-buih indah relungku merindumu. Semikronpun aku rela jumpa mata denganmu. Mengikis debu rindu yang memburam kilauan hatiku. Sekalipun teriris perih tak kan kurasa duka. Lamunku menembus angkasa, menelisik mencari nada itu. Nada cintamu kepadaku. Meski itu halusinasi, meski itu oasis imitas. Aku butuh bohongmu.

Merindu rembulan tak kan buatku suka. Dalam guyur rinai yang kian pekat aku mengacung lurus. Menyerap dingin hati bumi. Ku goreskan di dadaku bak tinta. Meliuk menulis asmaNya, mencanang asa. Aku ingin kau lihat ragaku ini bahagia lengkap dengan isi hatinya. Bahagia dengan kisah baruku, bersama bercinta dengan juta kata.

Hujan meluruh dukaku,
Hujan bekukan laraku,
Hujan tuntun jalanku,
Hujan songsong kesumba nada berwana..

20 September 2011