Search

Adi Nugroho

Read and Write 'til DIE

Month

October 2011

Ikeya-seki

ikeya-seki melucur indah subuh itu,
aura magis menyulut ganas,
sayup lirih rintih perih,
isak bak jamur dimusim hujan,
ah Tuhanku,
coba apa lagi ini?
Continue reading “Ikeya-seki”

Merindu dalam Rinai

Mukaku membiru, berbalut kelu yang terhambur sempurna di mataku. Rinai-rinai semakin terekam jelas. Mengucur melintas pori yang enggan membuka. Aku menggigil bersetubuh dengan dingin. Getaran rahangku nyaring memadu deretan gigi-gigi membentuk simfoni. Aku terseok berkalang lembaran dedaunan yang rontok di silir sang bayu. Temaram dalam laksa-laksa harap.
Continue reading “Merindu dalam Rinai”

Episode Empatbelas : Menunggumu…

Tangis Rindang terus mengurai di pipinya yang merona. Isaknya menggema merdu di dinding kamar yang gelap. Hatinya kini sudah habis teriris oleh Denova. Bersisa guratan luka yang kian lama kian sakit.

Kesedihan yang berlarut ini disadarinya tiada guna. Hati manusia memang tidak dipaksakan. Memang kenyataan pahit selalu membekas. Tapi kenangan akan selalu terpatri indah dan tidak akan mudah terhapus.

Rindang bangkit, dihapusnya lelehan air mata yang terasa mengering dan membuat mukanya kaku. Diraihnya ponsel di atas meja. Ditekan beberapa tombol dan ia mulai menelpon.
Continue reading “Episode Empatbelas : Menunggumu…”

Wawasan Kebangsaan

Ah lama sekali tidak update blog. Bukan karena malas menulis, tapu memang sedang menulis 2 cerber dan 1 novel. Hehe. Oke karena tidak etis jika blog tempat saya menimba ilmu ini saya biarkan berdebu karena lama tidak ditengok.

Beberapa posting sebelumnya saya sering menulis fiksi berupa cerpen. Pada posting sekarang mungkin mau share beberapa hal yang saya temui saat sedang menjadi tentor atau guru les. Lebih baik kita mulai saja sekarang.
Continue reading “Wawasan Kebangsaan”

Tumpukan Sampah

Sore ini rasanya badanku sangat capek. Setelah seharian mengajar dari jam pertama sampai jam terakhir aku tak berhenti mengoceh di depan kelas. Memang sih katanya sekarang guru cuma fasilitator dan siswa lebih aktif. Namun pada kenyataan di lapangan sangat berbeda. Jika siswa kita biarkan tetap tidak akan memahami materi. Dengan terpaksa kembali ke masaku dulu, guru cerewet di depan kelas.

Aku melintas melalui jalanan yang cukup ramai menggunakan sepeda. Beruntung rumah orangtuaku dekat dengan sekolah tempat kerjaku. Jadi aku bisa hemat biaya dan sekaligus sehat. Ya, itung-itung mendukung gerakan go green. Mengurangi hembusan asap-asap kendaraan.

Sore ini aku ingin melaju melewati jalur lain sebelum ke rumah. Memotong dan melewati jalan tikus. Menerobos jalanan dan gang-gang yang sebelumnya tidak pernah aku lalui. Begitu berkelok membuat aku bingung juga. Sebelum akhirnya keluar ke jalan agak besar yang merupakan jalur TPA.
Continue reading “Tumpukan Sampah”

Up ↑