Gaduh masih merambat saat kereta api penataran jurusan Malang-Blitar melaju cepat malam ini. Kereta terakhir yang beroprasi pada malam ini terlihat sangat lengang. Beberapa bangku penumpang terlihat ditiduri nyaman dengen berselonjor. Hanya sesekali terdengar bel dari kereta saat mau memasuki stasiun pemberhentian.

Menembus malam yang semakin pekat. Aku duduk sendiri di gerbong paling belakang dengan posisi bersandar dekat kaca dan memandang koridor tempat lalu lalang penumpang. Kuamati sekitar beberapa penumpang sudah nyaman terlelap. Ada juga yang masih menikmati musik dari hp nya dengan anggukan ringan. Pun juga ada yang bermain rubic seharga lima ribuan di kereta.

Aku melamun sambil memandang ke langit-langit kereta. Aku amati lampu neon yang agak bergetar. Di sebelahnya telihat noda-noda hitam berbalut sarang laba-laba. Sesekali terlihat anakan kecoak berlari cepat menyusup ke celah sambungan kayu. Beberapa cicak asik menyambar sebangsa nyamuk yang terbang bergerombol di sekitar neon.

Sesekali hidungku membaui bau tak sedap. Mungkin berasal dari toliet berpintu rusak dan terlihat kumuh tadi. Badanku terasa remuk, setelah tadi kuliah sampai jam5 sore. Aku memutuskan pulang ke Blitar naik kereta terakhir. Sial sungguh nasibku, kereta yang harusnya jam setengah delapan berangkat baru datang jam sembilan lebih. Sungguh Indonesia sulit untuk ontime.

Mataku sudah mulai tidak bersahabat lagi. Kantukku sepertinya sudah naik ke ubun-ubun. Menguap berkalipun justru membuatku semakin lemas. Tuhan jagalah aku saat nantinya tertidur.

Terdengar bunyi yang agak gaduh. Mataku memicing dan aku pertajam pendengaranku. Masih temaram mataku melihat bayangan dua orang manusia. Bertubuh masih pendek dan seertinya itu anak kecil. Ku kucek mataku agar mau terbuka dan menghilangkan kantukku. Kuamati dua anak itu selekat mungkin.

Terlihat yang lebih besar masuk ke bawah kursi. Setelah itu keluar membawa botol minuman ringan. Yang kecil cuma diam sambil mata sudah agak merah. Ia memegang goni yang berisi botol minuman ringan. Terlihat sangat damai wajahnya, tidak ada beban. Kadang tersenyum saat membukakan goni agar botol bisa masuk.

Kulihat jam pada ponselku menunjukkan 10:03 pm. Kupandang anak itu, lalu aku lambaikan tanganku agar mendekatiku. Terlihat dia masih bingung dengan yang ku lakukan. Lalu aku mengambil sebotol minuman yang belum sempat ku buka. Aku tunjukkan kepadanya sambil tersenyum. Terlihat dia mendekatiku perlahan.

” nama kamu siapa dek? ” tanyaku memulai percakapan. Sambil aku menyerahkan minuman dan sebungkus roti.

” namaku diki mas, oiya mas ini botolnya masih penuh tidak di minum dulu? Saya cuma mengambil botol kosong saja. ” diki menjawab sambil senyum.

” kamu saja yang minum, di bagi sama temannya. Itu siapa kamu? ” kusuruh dia minum sambil menunjuk ke anak satunya.

” dia kakak saya mas, namanya toni, oiya mas makasih minumannya,” dia menjelaskan tentang orang yang ternyata kakaknya.

” dik kamu minta sama masnya ya? ” terlihat toni memukul ringan tangan adiknya sambil memandangku malu.

” tidak mas ton, masnya tadi yang memberiku, aku tidak minta-minta,” jawab diki dengan lantang.

” iya tadi aku yang ngasih dia kok, jangan galak sama adiknya,” jawabku sambil tersenyum.

” iya mas makasih ya, maaf jika adik saya merepotkan,” responnya pelan dengan wajah semu memerah.

” kamu sekolah tidak ton? ” tanyaku langsung kepada toni saat dia merunduk mencari botol di bawah bangkuku.

” eh iya kak, aku masih sekolah kelas 3 SD di blitar,” dia menjawab sambil menaruh botol ke karung. Terlihat wajahnya sangat sayu. Aku yakin dia sudah sangat kantuk. Dan jam segini harusnya sejam lebih lama dari jam tidur anak seumurannya.

” kok kamu malam masih mencari botol di kereta ton? Memang tidak dimarahi ibu?” tanyaku lagi kepadanya. Terlihat ekspresi wajahnya agak berubah. Namun ia berusaha menyembunyikannya.

” ibu sudah pergi, jadi tidak ada yang memarahi aku mas,” jawabnya sambil menatap mataku. Ada kepedihan yang mendalam dari sorot jujurnya.

” diki sama mas toni tinggal sama mbah, ” diki menjawab sambil memakan roti yang kuberikan. Dia terlihat sangat lahab sekali.

” diki kelas berapa? ” aku bertanya pada diki sambil mengelus rambunya.

” diki kelas 1 mas, sudah bisa bantu nyari uang buat nenek,” jawabnya pelan sambil meminum air dari botol. Kulihat toni masih sibuk mengumpulkan botol sampai bangku paling belakang. Setelah itu dia kembali menemui adiknya.

” sudah selesai ton nyari botolnya?” tanyaku kepadanya. Kucoba membuat suasana senyaman mungkin.

” eh, sudah mas lumayan dapat banyak hari ini,” jawabnya sambil menali karung agar mudah di bawa.

” duduk disini dulu ton, diki juga duduk gih capek kan berdiri terus,” kutarik toni dan diki duduk di bangku depanku.

” dek sini tidur di pahanya mas,” toni menyuruh diki tidur.

” toni setiap hari mencari botol ya?” aku mulai lagi percakapannya. Terlihat dia masih membentulkan kepala adiknya.

” iya mas, sepulang sekolah aku sam diki pergi numpang ketera dan pulang sampai jam segini,” jawabnya sambil mengelus kepala adiknya.

” hmm, belajarnya bagaimana ton? Masih bisa belajar? ” kuberikan roti kepadanya. Dia terlihat malu namun akhirnya dimakan juga.

” makasih mas, aku belajar tiap pagi sehabis subuh sampai sebelum berangkat sekolah,” ia menjawab dengan suara yang agak menggigil. Dia kedinginan dengan hanya memakai celana dan kaos.

” oiya nenek kerja apa ton? Kok toni sama adik sampai bantu mencari botol? ” mulutku terasa agak kaku mengucapkam itu. Takut jika misalnya dia tersinggung dengan pertanyaanku.

” nenek sakit, tidak kerja apa-apa mas. Sebenarnya aku dilarang juga memulung namun aku ingin punya uang, bisa buat beli diki mainan atau buat nenek membeli obat,” nada suaranya menjadi sendu. Ada setitik air di ujung matanya. Lalu dia terdiam.

Suasana tiba-tiba hening. Aku cuma diam saja tidak berani bertanya lagi. Lamunku menjadi melayang membayangkan kehidupan anak di hadapanku. Toni cuma menatap lepas menembus kaca. Terlihat pemanangan di luar sangatlah gelap. Hanya sesekali terlihat lampu dari perumahan yang samar-samar membentuk rasi yang cantik.

Kereta akhirnya melewati terowongan bawah tanah buatan belanda di daerah karangkates, perbatasan Malang dan Blitar. Dua kali kereta meleawati terowongan yang langsung menyebarkan bau pengap.

” mas boleh tahu namanya siapa?” toni tiba-tiba bertanya, seketika lamunku buyar mencari ekor bunyi dari mulutnya.

” aku Adi, rumahku di Talun Blitar,” jawabku pelan sambil menatap pelan matanya.

” mas Adi kuliah ya? Jurusan apa?” dia bertanya semakin antusias.

” iya aku kuliah di Malang, ambil jurusan guru matematika,” tak kalah aku jawab dengan tersenyum.

” wah mas, aku pandai lo matematika, aku selalu dapat nilai 100 di kelas,” sambil mengembangkan senyumnya dia menanggapi jawabanku.

” nanti kalau sudah besar ingin jadi apa ton?” aku terus bertanya lagi. Entah kenapa aku menjadi sangat penasaran dengannya.

” hmm, cuma ingin tidak mencari botol lagi kak. Aku juga tidak berani punya cita-cita. Kalaupun nanti ada rejeki aku cuma ingin diki saja yang punya cita-cita,” suara agak terdengar serak. Namun aku melihat ketekatan dari sorot matanya. Seorang anak dengan pemikiran yang mendahului usianya. Anak yang seharusnya bisa bermain dan menghabiskan masa kecilnya.

Ya Tuhan, betapa beruntungnya hidupku. Aku tidak harus menjadi seorang toni ataupun diki. Dengan umur ssemuda ini harus bekerja dengan memulung, dikereta dan malam. Sangat beresiko sekali.

Kulihat mereka berdua sudah tertidur dengan lelap. Ada beberapa lelehan air mata di pipi toni. Sementara wajah diki terlihat ceria sambil memeluk botol minuman. Aku cuma bisa diam memandangi mereka.

Tuhan pasti punya caranya sendiri-sendiri. Nasib dari seseorang tiada yang tahu. Walaupun pekerjaan dengan usia semuda ini bukan suatu kutukan kemelaratan. Aku yakin kalian berdua akan menjadi seorang yang hebat.

Kereta penataran tujuan Malang ke Blitar terus melaju dengan cepat. Menembus rerimbun gelap malam. Dari bangku ini aku mendapatkan satu kisah hidup. Kisah dari dua orang anak muda yang sangat gigih. Aku sungguh sangat beruntung bertemu kalian berdua. Semoga kalian memiliki masa depan indah.🙂

Digerbong terakhir kereta api penataran, kisah ini ku persembahkan untuk kalian🙂

Blitar, 24 September 2011
Adjavas