Surya mulai masuk ke peraduannya. Horizon dipenuhi lembayung sutra yang indah. Laut memekat berwarna keemasan. Nyiur, bebatu dan pasir pantaipun berwarna emas. Momen ini terekam apik melalui mataku. Terkunci sempurna serupa deretan pita film yang siap di putar. Indahnya senja.

Aku berdiri menatap lepas seluas lautan. Camar-camar terbang rendah bersama kawannya. Merasi indah dan meliuk menghambur bersama hembus angin. Kawanan nokturnal terlihat lalu lalang di sekitarku. Ah, sepertinya aku harus kembali ke penginapan.

Aku berjalan lambat sepanjang garis pantai. Terlihat jejak-jejakku membentuk liukan panjang bak siluet ular. Namun seketika lenyap tersapu debur ombak. Kupandangi lagi cercah jingga yang mulai hilang. Bersambut dingin yang membelai telanjang kakiku. Membuat tubuhku terasa kaku, aku membatu.

Sayusayu bersama sepoian angin ada suara berbisik. Sungguh lirih hampir tak terdengar nyata. Mungkinkah itu suara angin? Mungkinkah itu suara malam? Aku tak menghiraukannya. Ku lanjutkan langkah kakuku. Menembus batas gelap dalam temaram ekor mataku.

Sekali lagi suara itu menyentil daun telingaku. Ku edarkan pandanganku ke sekitar. Terlihat semakin gelap. Aku tidak menemukan apa-apa. Namun tiba-tiba terlihat anak kecil berumur 5 tahun. Tubuhnya mungil dan terlihat menggigil. Dia menyembunyikan kepalanya di sela kakinya.

“Dik, kamu kenapa kok menangis?” tanyaku sambil mendekatinya. Tak jua ada jawaban darinya. Hanya terdengar isakan yang semakin keras.

“dik apa kau tidak apa-apa?” kucoba bertanya lagi. Mulai aku elus rambutnya yang dipotong cepak khas anak kecil. Dia cuma menunjuk-nunjuk sesuatu di depannya.

Terlihat kumang yang mati karena terlepas dari cangkangnya. Memucat dengan cangkang kerang yang usang. Aku terdiam masih bingung dengan keadaan ini.

“dek kenapa dengan kumang, kok bisa mati? Dan kenapa jua kau jadi tersedu? ” masih ku bertanya pada sosok kecil itu.

” kasihan dengan kumang, ia terlepas dari cangkangnya dan mati,” jawabnya masih terus tersedu.

Aku amati lagi makhluk yang sudah mati itu. Di sebelah cangkang usang terdapat cangkang yang lebih besar dan bagus. Namun aku yakin pasti itu terlalu besar dan berat untuk makhlluk sekecil itu.

” padahal dia tadi masih sehat, namun sehabis lihat ini dia keluar dari cangkangnya dan ingin masuk ke yang baru,” jawabnya terisak sambil menunjukkan cangkang indah.

“udah dek jangan nangis, mungkin sudah takdirnya kumang,” bujukku agar dia berhenti menangis.

“tapi kenapa dia tadi pindah, bukannya rumah lamanya pas, dan yang baru memang indah tapi tidak pas buatnya dan berat,” jawabnya pelan dengan tangis yang mulai reda.

“apa kumang mati karena tidak mau bersyukur ya kak?” dia bertanya sambil menatap wajahku.

Aku terdiam sesaat. Aku pandang sosok di depanku. Terasa familiar dan tidak asing lagi. Sosok dengan wajah sendu, mata lebar, hidung seadanya tak lancip atau pesek. Namun sorotan matanya yang membuatku yakin. Itu aku.

Kupejamkan mataku perlahan lalu kubuka. Sosok itu sudah hilang, entah itu tadi nyata atau hanya visual pikiranku. Tapi sungguh sangat yakin jika itu tadi nyata. Aku bisa merasa dingin saat membelai rambutnya dan aku bisa merasa hangat saat melihat sorot matanya.

Ku lanjutkan berjalan menyusur pantai. Kupandang lepas ke angkasa. Rupanya surya malam sudah nampak menyapaku. Aku pandang penuh kekaguman, namun seketika ada berkas cahaya membentuk wajah anak kecil tadi. Sorot mata yang sendu dan damai. Seakan dia ingin memberitahuku sesuatu.

Apa maksud dari semua ini ya? Apa maksud dari kumang dan anak kecil tadi?

Aku duduk bersandar pada batang nyiur. Kepejamkan mataku untuk mencari jawaban. Namun tak kunjung juga yang ku mau muncul. Yang terbayang hanya sorot mata anak kecil itu. Tak bisa aku hilangkan, justru semakin lekat.

“apa dia mati karena tak bersyukur? ” suara anak itu tiba-tiba muncul lagi.

Entah kenapa mendadak pikiranku menembus waktu. Tergambar aku dengan keadaanku dulu. Dengan sederhana dan bergelimang sayang. Terlihat mataku sama dengan mata anak kecil itu. Hangat dan penuh kebahagiaan. Mendadak bergulir bayangan itu berganti diriku dengan pandangan mata dingin, penuh ambisi. Terlihat harta melimpah namun tiada bahagia. Berlanjut pada scene selanjutnya. Terlihat aku begitu tua dan rapuh. Sendiri pada gubug reot tanpa teman. Sendiri dengan keangkuhanku. Sendiri.

Seketika aku tersadar. Saat dengan lembut kumang kecil bercangakang lusuh bergerak mengenai kakiku. Suryapun telah terbit dengan berkas yang berkilau. Tuhan? Apa kau mengingatkanku?

ADjavas
22 September 2011

Salam Blogger!