Hahahaha…

Aku tertawa sangat lepas. Mengecap detik demi detik lelehan darah yang mengalir dari ujung jidatku. Bau anyir masih semerbak dari lendir yang hampir hitam dan mengering. Menyisakan sedikit asa dari ruang terdalam palung hatiku. Tuhan, apakah aku masih kau inginkan hidup?

Aku, tak bedanya dengan sejawat seumuranku. Berada pada usia yang kerap dinaungi cinta muda. Cinta usia remaja yang membuat insan jatuh bangun mendamba seseorang. Figur yang telah memikat tanpa tedeng aling-aling. Mencuri hati.

Aku cuma berani mengamatinya dari jauh. Dari sela rerimbun semak, dari sekat tembok sekolah dan dari ujung jalan pulangmu. Tak menahu tak terpikir aku bisa terseret pesonanya. Dari bilik kecil di hatiku aku mulai menulis kata pujaku kepadanya. Kelak lahirlah lembaran kisahnya yang bertinta asaku.

Cinta?
Ah aku tidak tahu ini itu terkait kata Cinta. Definisi yang tepat mengenai cinta pastilah berbeda setiap individu. Ada yang bilang cinta itu anugerah. Cinta itu butuh pengorbanan. Bahkan love is sex. Tak ada kejelasan makna tentang cinta. Bagiku cinta itu mengaguminya. Dari sini, ujung jauh ekor mataku.

Senyumnya kadang membuatku tersandung saat berjalan. Makanku jadi semakin lama, tiap kunyah muncul senyum lucu itu. Pipi merona, hidung runcing dengan ekspresi pemikat tajam. Ah, racunnya begitu cepat menginfeksi. Mengedar bersama aliran darah, membuatku kejang dalam kesendirian.

Yah, dengan jujur aku sangat memujanya. Membayangkannya saja membuat rona pipiku memerah. Pompaan darah di tubuhku menjadi meningkat. Mungkin aku memang sudah terjangkit penyakit cinta. Karenanya.

Kupegang pelan kepalaku. Pening masih terasa samar, mataku masih temaram mengumpulkan cahaya yang masuk ke pupilku. Aku terdiam sebentar, mengamati sekitarku, memanggil memoriku yang entah hilang kemana.

Sekeliling begitu gelap. Semilir sepoi sang bayu merembet membelai tubuhku. Hanya terlihat sorot rembulan menembus rerimbun daun. Baru pertama ini aku terkagum dengan keindahan bulan. Senyumnya begitu membuatku damai.

Memandang fotonya dari kameraku membuatku mendadak kelu. Begitukah aku mengaguminya? Sampai aku bak paparazi, membidik mencuri foto-fotonya. Mungkin aku sudah tidak waras.

Aku terdiam dalam gelapnya kamar. Kulihat lagi fotonya dengan berbagai ekspresi. Saat tersenyum, saat bermain basket, saat kau menggandeng pasangannya. Aku punya lengkap sampai memori otakku tak mampu menghafal setiap scene yang aku abadikan.

Aku tertawa perlahan. Betapa bodohnya aku ini. Mencinta seseorang yang bumi dan langit adalah pembanding kita. Bahkan sudah jelas tidak mungkin lagi. Aku seorang pria dan diapun sama. Yah aku mencinta pria.

Ku sembunyikan kepalaku di lipatan lututku. Aku membaur dalam hening. Mengingat lagi apa yang telah aku lakukan. Ku konsentrasikan pikiranku. Tuhan, cobaan apa ini?

Aku belari sekencang-kencangnya ke titik hitam itu. Aku jengah, Aku benci Tuhan memberiku hidup. Hidup yang Indah dalam kesemuan. Aku berada di sisi yang salah!!

Ku daki terjal bukit itu. Aku ingin menghilang. Aku ingin terbebas dari siksa karena mencintanya. Aku ini kotor, aliran darahku tercemar cinta yang salah.

Dari ujung bukit aku berteriak sekencang kencangnya. Aneh suaraku menghilang, yang terdengar hanyalah hembusan angin malam. Aku coba keluarkan semua suaraku. Namun makin sirna. Aku bisu.

Aku berlari ke dalam hutan. Menubruk apapun yang ada di depanku. Tak perduli lagi apa yang terjadi kepada tubuhku. Tempo lariku semakin menggila. Aku tak perduli lagi. Aku ingin segera hilang, jika di izinkan aku ingin mati.

Mendadak sesuatu yang keras membentur kepalaku. Seketika aku roboh, walau sempat terlihat sorot putih yang makin redup. Tuhan? Apakah aku kau panggil?

Aku terisak sambil memegang kepalaku. Suaraku kembali lagi, terdengar tangisku menggema di ujung hutan. Aku kecewa Tuhan tidak menjemputku saat ini. Aku kecewa dengan keadaan hidupku.

Tuhan?
Aku harus hidup seperti apa?
Aku rela kau ambil, aku rela kau hilangkan suaraku, hilang semua kaki tanganku. Asalkan kau biarkan hati ini mencintanya dengan BENAR. Bisakah?

Blitar, 19 september 2011
Adjavas.

Salam Blogger!

NB : Hanya fiksi belaka, hehe