Mataku masih terpejam saat Ibu membangunkanku. Masih diantara sadar dan tidur aku digiringnya ke meja makan. Harum masakan masih segar di udara. Perlahan kelopak mataku melebar dan membuka. Begitu jelas sajain di depanku. Dan aku masih tak tahu kenapa aku dibangunkan.

“Bangun nak, ayo sahur dulu keburu imsak,” ibu membangunkan lagi aku dari jerat mimpi. Aku terdiam sejenak mencerna apa yang baru aku dengar. Ya, benar sekali. Sekarang adalah hari pertama ramadhan.

” Iya bu, mana jatah kakak yang banyak,” sambil garuk-garuk kepala, aku minta diambilkan makan. Sepertinya aku mengalami penurunan daya ingat gara-gara skripsi. Padahal kemarin malam aku sholat tarawih di mushola. Ah, aku sudah dibodohkan oleh tumpukan draft skripsi.

” Ibu, adek mana bu? Kok tidak dibangunkan? ” sambil makan aku mencari-cari salah satu adikku yang tidak ada di ruang makan. Sepertinya tidak ada bunyi-bunyi aneh adikku yang cerewet.

” Adikmu yang kecil lagi ada tamu,” Ibu menjawab agak pelan. Hah? Adikku yang kecil sudah dapat ya? Sejak kapan? Sepertinya banyak yang tidak aku ketahui di rumah. Berbulan berkutat dengan penelitian dan proyek akhir yang menjemukan.

Akhirnya makanku selesai juga. Bekal agar nanti puasa kuat dan tidak lemes. Kebiasaan sahur memang buatku merindu. Bulan ajaib datang dengan segala berkah yang memancar.

Menunggu subuh aku sempatkan membaca buku dahsyatnya ramadhan dari pak Azzet. Ku baca doa hari ke-1. Kututup mataku perlahan. Menyerap kata dari doa yang perlahan membuatku sejuk. Ku hirup perlahan udara pagi. Udara berkah menyebar disetiap pori tubuhku.

“ddddrrrrt dddrrrt,” hapeku bergetar. Sekejap aku tersadar dari lamunku. Seorang sahabat mengirim pesan. Dia mengajakku jalan pagi sehabis subuh.

“boy habis subuh jalan pagi yuk!”

“boleh lah, sama siapa saja??

“berenam nanti sama anak lainnya.”

“okelah bro, nanti jemput aku ya!”

Selesai berjamaah bareng ayah dan ibu aku keluar rumah. Aku menunggu temanku di teras rumah. Sambil mengecek daskboard blogku dari ponsel. Mengecek komen yang baru atau masih perlu aku moderasi.

“woy boy, gimana kabar? Lama kau tak muncul di rumah?” temanku yang tadi sms menyapaku. Temanku ini namanya Puguh. Teman semasa SD dan sekarang dia sudah bekerja di pangkalan pertamina.

” baik bro, iya lagi selesaikan skripsi. Kejar deadline biar wisuda nanti september. Oiya kita nanti jalan kemana?” jawabku antusias. Bagiku bertemu teman lama adalah hal yang membuatku terkesan. Sahabat masa kecil yang setia sampai sekarang.

” Biasalah boy, kita ke mbulak cinta,” jawabnya santai. Mbulak adalah jalan yang kiri kanannya adalah sawah yang panjang dan luas. Dijuluki seperti itu karena sering dipakai tempat pacaran masal saat puasa. Menyedihkan.

” hah? Tempat itu? Ogah lah bro, males aku ke sana,” aku menolak ajakan temanku itu. Sebenarnya aku merasa jijik melihat orang bermesum di tempat itu. Bukan aku iri karena selalu jomblo. Tapi aku merasa tak pantas saja.

“ayolah bro, kita cuma maenan mercon kok. Oke? Oke?” temanku meyakinkanku.

“okelah aku ikut, yuk berangkat,” jawabku agak kesal.

Kita berangkat berjalan kaki berenam. Sesampai disana beberapa teman mulai menyulut mercon. Aku cuma melihat dari kejauhan. Sambil asik mengupdate feed blog sahabat blogger.

Suasanya sangat ramai. Muda mudi sibuk bermesra gila disana. Ah, aku seret teman-temanku segera pulang. Tak tahan di area yang berhawa panas. Mending aku tidur sampai siang daripada kesini.

Realita yang sering terjadi pada ramadhan. Sungguh ironis, bulan yang ajaib ini justru ternodai dengan adanya asbuh. Asmara subuh. Hal kecil yang tersisip disetiap munculnya ramadhan. Bersiapkah dengan ramadhan yang suci?

-adjavas, juli 2011-

Marhaban ya Ramadhan, bulan terajaib telah tibah wahai kawanku🙂 mari berlomba dalam kebaikan dalm sebulan ini. Mengisi detik disetiap hari dengan menyebut asma-Nya. Selamat menunaikan ibadah Puasa.

Salam blogger!