Yah, mentari bersinar indah seperti biasanya. Indah dipenuhi berkas kimilaun begitu mengagumkan. Kala itu aku termenung di depan teras rumahku. Menyerap energi alam pagi yang menyehatkan. Dalam semilir sejuk angin pagi.

Mendadak tanpa sadar aku menangis. Bukan tanpa sebab, aku menangis teringat orang terhebat dalam hidupku. Orang paling kuat dalam situasi apapun. Tak perduli raga sudah merapuh, dihiasi putih rambut yang makin menyebar.

Itulah kau ibuku. Tak mengerti anakmu ini tentang hidup. Yang ku tahu cuma sikapmu dalam menjalani hidup. Mungkin itulah arti hidup buatku. Aku tumbuh sempurna saat berada di sampingmu. Ketika aku mencoba hidup sendiri entah kenapa aku tumbuh begitu lambat dalam kesepian.

Kadang aku bercerita kepada anakku. Betapa besar rasa sayangmu yang mensuport aku. Hingga bisa sampai sebesar ini. Hingga aku mampu membangun keluarga, yang aku tahu tak sempurna keluarga yang engkau buat. Tapi aku selalu belajar untuk menjadi yang terbaik buat keluargaku.

Kadang aku tersenyum sendiri teringat masa aku sekolah. Aku selalu memintamu membangunkanku, tapi selalu dan selalu aku marah kepadamu. Namun kenapa engkau tanpa lelah setiap hari membangunkanku? Betapa engkau ini seperti tank yang super kuat.

Sekarang tubuhmu semakin menua, namun aku yakin semangatmu tak pernah memudar. Karena kau mampu melakukan pekerjaan hebat selama ini. Namun ada pekerjaan yang sampai saat ini masih belum kau lakukan. Yaitu menerima cinta dan sayang dari anakmu ini.

Karena aku sangat bangga menjadi anakmu. Aku bangga kau Ibuku. Dan aku ingin selamanya kau adalah Ibuku.

@perbatasan Malang-blitar
17 Juli 2011,
Di tulis saat duduk santai di bus.

Tulisan di atas terinspirasi saat mendengar lagu berjudul “Mother” yang di nyanyikan rapper Jepang bernaman Seamo.

Salam Blogger!

Posted by Wordmobi