Senja yang indah di kaki langit. Lembayung sutra berkilauan, berwarna emas, begitu memukau sepasang mata ini. Waktu tak mungkin terhenti walau bermikron detik, terus bergulir tanpa mengenal lelah. Siang yang terik seakan menguapkan cairan tubuh, berganti silir sang bayu yang membekukan tulang malam ini. Waktu begitu cepat berubah tanpa kusadari.

Ku berjalan di pematang sawah, berbalut syal di leherku. Setahun lalu aku menerima ini darimu. Tepat di bulan Juni yang penuh cinta, bulan yang penuh kenangan. Begitu hangat, seakan kau memelukku dengan erat. Dingin malam tak berani menggores kulit tubuhku.

Purnama satu begitu indah, lebih indah lagi jikalau kau duduk disini menemaniku. Menyandarkan kepalamu yang mungil di bahuku yang besar dan kokoh. Menikmati mata besar nan indah itu di lebarnya langit malam. Namun waktu sudah berubah begitu cepat, lebih cepat dari larinya kijang yang dikejar singa. Keadaan berbalik dan porak poranda.

Kupejamkan mata, selalu terbayang senyum manismu. Senyum yang dulu membuatku jatuh bangun mengejarmu. Ingin ku format ulang isi pikiranku ini. Ingin ku kosongkan hingga seputih kertas. Tapi cengkraman itu begitu dasyat, ikatan itu menjahit perasaanku. Semakin aku coba mengelak dan mencoba ikhlas, tapi justru semakin kuat kenangan itu. Memoriku menjadi overload dengan berkas-berkas lukisan wajahmu.

Mendekapmu dengan hangat, memandang rona pipimu yang merah saat ku cium. Itu yang membayangi hariku sekarang. Sadar dan amat paham bahwa itu semua cuma angan palsu. Mimpi palsu yang aku buat agar hati ini terhibur. Karna tak mungkin lagi aku memelukmu, memegang tanganmu pun mustahil.

Langit malam ini begitu indah, bertaburan serbuk bintang yang memancarkan kehangatan. Membiusku hingga nyaris jatuh di tebing kerinduan yang tak berujung. Aku tidak ingin mengucapkan kata berpisah. Karena hatiku masihlah bersinkronasi merdu dengan getar lemah hatimu. Tak mungkin ku mengatakan itu di hari yang begitu indah ini.

Tak peduli jika tubuh ini hancur, dan terbang hilang menjadi debu di udara. Tak mungkin aku bisa melupakan hari yang indah, hariku bersamamu. Bersamamu duniaku penuh warna. Ku inginin bertemu denganmu sekali lagi. Walau cuma sedetik, akan kupertaruhkan segalanya. Aku akan terus berusaha dan berteriak sekuat tenaga sampai pita suaraku putus. Agar aku bisa jumpa dengan wujudmu yang nyata.

Tidakkah kau tahu, aku ingin mengejar mimpiku bersamamu. Disisimu membuatku sekuat karang, bahkan mata bor intan pun tak kuat menembusku. Aku menjadi tak terkalahkan di sampingmu. Karena aku punya mimpi besar untuk kita. Mimpi yang sekarang menjadi angan, tak ada pegangan dan arah lagi. Aku goyah tanpamu disisiku.

Hanya indahnya kenangan yang masih tersisa disini. Di dasar ruang rinduku yang mulai kusam berdebu. Karena aku belajar tentang indahnya dunia darimu. Belajar tentang kebahagiaan dari hangat kau memandangku. Bahagia untuk menikmati hidup, dengan segala tantangan di dalamnya.

Tinggalah harapan yang dulu pernah kita rancang. harapan besar tentang masa depan kita bersama. Sekarang itu yang ku jaga dengan sekuat tenaga. Takkan kubiarkan harapan itu layu dan mati. Walau sekarang kau jauh disana. Jauh terpisah batas ruang dan waktu. Kan kujaga seumur hidupku.

Hari yang begitu indah, tak akan ku ucapkan kata perpisahan.

020611
Adi Nugroho

Beberapa hari ini saya sedang suka dengan lagu dari Ken Hirai yang berjudul “itoshiki hibiyo”. Yang memiliki arti Hari yang Indah. Melalui cerpen di atas saya mencoba mengekspresikan lirik yang menurut saya sangat menyayat hati. Semoga berkenan memberikan kritik dan saran terhadap cerpen dadakan yang saya buat.

Jika ingin mendengarkan lagunya bisa mengunduh disini. Dan saya juga menemukan lirik yang sudah di Indonesiakan. Mungkin sambil mendengar lagunya, cerpen di atas lebih dapat feelnya.

Salam Blogger!!