Kuamati rindang pepohonan yang begitu menyegarkan mata. Kuhirup sejuk udara bersih. Sungguh alam yang suci adalah anugerah. Tak ada cacat di berbagai sisi. Begitu damai dan bersuara indah.

Kutuntun malaikat kecilku menyusur belanatara surga ini. Mengajaknya menikmati keindahan alam yang ajaib. Riuh dengan gemercik air, gesekan daun yang terhembus angin dan lengkingan penguasa dirgantara. Ku rekam bersamanya suara dan warna alam ini.

Ayah : “Adek sayang, lihat kupu-kupu ini, begitu indah warnanya. Kibasan sayapnya begitu cepat seakan tak terlihat”

Adek : “Iya ayah, begitu indah ciptaan-Nya. Padahal jika sebelum menjadi kupu-kupu, makhluk ini adalah sesuatu yang menjijikkan”

Ayah : “Begilulah anakku, ciptaanNya begitu sempurna, desainnya begitu rupawan”

Ku terus berjalan mengikuti aliran sungai kecil di tepi hutan. Kilauan cahaya terpantul dari beningnya air yang begitu bersih. Tanpa bahan pencemar yang merusak. Di minumpun tak akan menyebabkan sakit, sungguh alam masih terjaga.

Kuamati lapukan kayu yang termakan oleh rayap. Binatang kecil berkoloni yang memiliki sistem hebat. Kerjasama yang sungguh brilian, sesuai skenario dariNya.

Ayah : ” Dek, coba amati kawanan rayap itu, ada pekerja, penjaga sampai ratu. Mereka membentuk koloni yang besar perlahan tapi pasti. Ratu terus menghasilkan telur untuk siklus koloni ini. Telur yang menetas nantinya akan mengganti yang sudah mati. Begitu seterusnya tak akan terputus.”

Adek : ” Ayah, siklus itu apa? Pelajaran adek di SD masih belum ada ”

Ayah : ” Anak ayah yang pintar, siklus itu adalah rangkaian kejadian yg
berulang-ulang secara tetap
dan teratur. ”

Adek : ” Jadi seperti kupu-kupu tadi ya yah? Dari telur berkembang jadi kupu-kupu dan bertelur. Begitu seterusnya tanpa henti ”

Ayah : ” Yaph, anak ayah pintar. Namun siklus itu tidak hanya seperti itu saja anakku. Sebagai contoh ayah dan kamu, itu juga siklus. Ayah mengajarkan kebaikan kepadamu, kelak kau juga akan mengajarkan ke anakmu. Begitu seterusnya akan berlanjut. Jangan sampai kebaikan itu siklusnya terputus.

Adek : ” Memang kenapa yah jika terputus? ”

Ayah : ” Jika siklus kebaikan terputus maka hancur sudah dunia ini anakku. Tidak ada lagi kasih sayang, hanya ambisi yang saling menghancurkan. Kejahatan menguasai bumi. Dan menuju suatu kiamat. Karena kebaikan sungguh sulit perjalanan siklusnya.

Adek : ” Jadi selama siklus kebaikan tak terputus kita bisa hidup tenang yah?”

Ayah : ” Tidak nak, kita juga harus memutus rantai keburukan. Agar tidak tersalur ke pihak lain, karena keburukan selalu mudah menular”

Sambil terus berbincang dengan malaikatku ini, ku ajarkan padanya seberkas arti hidup. Karena hidup bukan hanya makan dan bernafas. Hidup itu perlu pemikiran yang kreatif, pemikiran yang bijak. Seperti layaknya siklus hidup. Selama kebaikan masih bisa berputar siklusnya. Maka kedamaian akan terus bersarang meski terus tertantang.

bersiklus

hanyut dan tenggelam,
terguling, gelombang hati,
terseret ketepi tapi tak mati,
makin menggema dan membesar.

menguap karna kuasa surya,
terbang berkoloni apik,
bayu berhembus merdu,
bulir kasih terjun bebas,
meluber dipunggung indah alam,

menerobos mantel penghalang,
liuk berliku di pori rindu,
mengikis bermili ego,
perlahan beri kesegaran dan hidup,

berkelana tak kenal lelah,
riak membuncah dan berpercik,
berkas terpantul indah,
selendang warna berkilau samar,

aura kehidupan hijaukan alur,
tumbuhkan batang ranting menancap,
kembangkan kuncup harapan,
lebat berbuah manis.

muara berbaur dan bercampur,
cipta karya baru nan megah,
berpusar tak perporos,
menenggelamkan dan berhanyut,
menguap dan bersiklus tanpa putus,

KeHidupan..

Salam Blogger!