Silir angin dingin masih begitu terasa. Tetes air hujan siang itu masih mengalir dari ujung ranting yang menghijau. Bias sinar membentuk lengkungan indah pelangi di sore itu. Begitu indah ciptaanNya, tiada cacat bentuk dan rupa.

Aku dan anak semata wayangku duduk di teras rumah. Menikmati hawa sejuk yang kian dingin. Kupeluk anakku agar ia tak kedinginan. Hanya kehangatan ini yang ia dapat. Menjadi seorang orangtua tunggal ternyata sangat melelahkan. Ada peran ibu yang kadang tak mungkin ku lakukan.

Ayah : adik kalau sudah besar ingin menjadi apa?

Anak : hmm, aku ingin menjadi orang yang hebat yah! Aku ingin menjaga ayah…

Ayah : wah, anak ayah cita-citanya sangat mulia.

Ayah : aku hanya ingin ayah bahagia, dan aku jadi lelaki hebat dan kuat!

Desiran suara harapan anakku yang begitu indah. Bahkan cahaya pelangi itu lengser dan tak ada apa apanya dari impian anakku. Putraku satu-satunya, hartaku yang paling berharga. Akan ku naungi mimpimu hingga kau dewasa dan benar-benar menjadi kuat.

— 15tahun kemudian —

Dering ponselku tiba-tiba berbunyi nyaring. Ada apa gerangan tengah malam seperti ini ada yang menelponku. Sambil masih menutup mata aku terima telpon itu. Suara yang tak asing lagi itu tiba-tiba membangunkanku.

Anak : ayah, bantu anakmu yah!

Ayah : kamu kenapa nak? Kok sampai bilang begitu?

Anak : aku tak berguna yah, aku seorang yang yang bodoh!

Ayah : kamu kenapa nak? Ceritan semua ke ayah,,

Anak : aku menghamili seorang gadis.

Tiba-tiba telpon itu diputus mendadak oleh anakku. Aku terdiam dan air mataku meleleh tak minta izin. Hatiku seakan hancur berkeping keping. Tak pernah rasanya ku mengajari sesuatu yang salah. Aku selalu memperhatikan anakku dengan baik. Tapi mengapa?

Siang itu dia pulang dengan muka yang murung. Aku hanya pasrah saja nanti akan terjadi apa. Ku hanya diam sampai anakku mengajak berbicara.

Anak : yah, aku telah bertindak tidak baik.

Ayah : *diam*

Anak : yah, aku tahu kau akan hancur dengan kelakuanku.

Ayah : ini hidupmu nak, kau yang berbuat kau yang bertanggung jawab.

Anak : aku akan menikahinya yah, walau aku tidak menyayangi nya.

Ayah : kau harus menyayanginya nak, itu harus.

Ku ajak anakku ke taman belakang rumah. Untuk menikmati bunga yang akan mekar. Mekar setelah terkena guyuran segar hujan.

Ayah : nak, lihatlah bunga itu, masih menguncup.

Anak : iya yah masih menguncup,

Ayah : kuibaratkan itu kau waktu kecil nak, masih rapuh, masih perlu lindungan.

Anak : *diam dan perhatikan*

Ayah : coba amati saat akan mekar, dari proses kuncup sampai mekar dan indah. Itulah kau berada sekarang, kau berada diproses terberat dalam hidupmu. Proses dimana segala masalah hidup datang dan akan membuatmu menjadi seorang yang dewasa.

Anak : bisakah aku yah?

Ayah : kau pernah bilang ingin menjadi yang hebat. Kau harus melewati proses anthesis dalam hidupmu. Proses terberat sebelum kau berkembang dengan indah.

Anak : tapi, aku benar-benar lemah yah! Dan aku sungguh tidak bisa sayang padanya.

Ayah : anthesis mu akan benar-benar sempurna jika kau bisa menyayangi wanita yang telah kau tanami benihmu. Dan akan terus berkembang saat kau menyayangi buah hatimu.

Anak : apakah ayah sudah melewati proses anthesis dalam hidup ayah?

Ayah : anthesisku belumlah sempurna jika anakku belum bertindak sebagai seorang yang hebat. Seorang yang bertanggung jawab, itulah orang hebat.

Setiap orang pasti akan mengalami cobaan terberat dalam hidupnya. Perjalanan yang panjang sebelum nantinya ia akan bersinar, ia akan menghasilkan swsuatu yang bermanfaat. Seperti layaknya anthesis, anthesis adalah proses mekarnya bunga. Dari kuncup yang rawan bahaya, menjadi bunga indah yang siap menghasilkan bibit unggul. Itulah hidup kita, kita harus bisa menghasilkan karya saat kita berada di proses kehidupan, saat kita telah berkembang dengan indah.

Salam blogger!