waktu berputar begitu cepat,
bermanufer di setiap celah kehidupan,
seberkas sinar yang dulu singgah,
kini menghilang,

sinar keemasan yang dulu datang,
memekarkan setiap mili hatiku,
mengharumkan ruang rinduku,
sesak tapi membahagiakan,

cahaya keemasan itu sungguh hangat,
menaungi hidupku yang kelam,
membuat jiwaku bersenandung,
dalam simfoni nyanyianmu,

Tapi,

badai kelam itu datang,
seakan menutupmu dari pekatnya hitam,
aku buta, aku patah arah,
penuntunku menjadi abu yang ditiup angin,

Hilang,

Musnah,

kaliaranku muncul seketika,
ku meraung, ku mencakar,
kucabik hatiku yang beku mengkristal,
tanpa ampun, tanpa sadar,

wajahku mengerut,
tubuhku mengecil bagai kurcaci,
darah segar mengalir dari mataku,
mengering di pipi lusuh ini,

Hangat,

Nyaman,

cahaya berwarna itu begitu silau,
namun ku seakan terbelalak,
tak bisa menutup mata ini,
nenikmati indahnya,

aurora borealis yang indah,
menebar senyumnya kepadaku,
aku terpaku dan mati kutu,
indah…

ingin kugapai,
tapi kutakut sakit lagi,
kutakut liar dan menggila,
jika keindahan itu mendadak hilang,

ku hanya akan diam,
menikmatinya dari kejauhan,
menjadi pemuja rahasia,
sampai kuyakin,
kaulah tembatanku yang terakhir,

10052011
Adi Nugroho