Bacalah kisah ini dahulu hanya ingin membaca. Semoga bisa memberikan hal yang bermanfaat.

Tak pernah ku berhenti untuk membaca. Tak pernah kuberhenti untuk belajar. Tak pernah kuberhenti untuk menulis. Dengan membaca, belajar dan menulis, aku bisa menghidupkan pikiranku, menyalakan berkas sinar masa depan.

Dalam remangnya sinar lampu minyak, ku paksakan untuk membaca buku baru. Buku yang baru aku dapat tapi pagi di tempat pembuangan akhir. Begitu haus aku akan yang namanya buku. Segala jenis buku yang telah dibuang pemiliknya menjadi santapanku setiap hari. Tak ku pedulikan cuma makan nasi dengan garam, sambil membaca buku sudah layaknya lauk terenak yang di nikmati.

Aku memang cuma seorang gadis berumur 16 tahun. Cuma tinggal dengan Ibu yang sudah renta. Dan hidup di lingkungan yang tak layak ditinggali. Atau lebih tepatnya rumahku adalah tempat pembuangan akhir. Tempat si kaya membuang sampah, membuang yang tak berharga lagi. Ya, disitulah aku tumbuh dan berkembang.

Kecil tak berarti lemah,
Miskin tak berarti bodoh,
Aku ingin menjadi pandai,
Membaca tanpa lelah,
Belajar tiada henti,
Kaya dengan ilmu

Seorang diri emak membesarkanku, dari uang hasil memulung. Dari sampah itu aku bisa tumbuh sebesar ini. Dari barang bekas tak berguna aku bisa menikmati duniaku. Meski tak seindah dan semewah yang mereka alami.

” mak, aku pergi ke sanggar dahulu. Sepertinya anak-anak sudah menungguku disana,” kataku kepada emak mohon pamit.

” ia nduk, hati-hati ya,” jawab emakku pelan.

Aku termasuk orang yang beruntung dibanding anak lain di sekitarku tinggal. Setidaknya sebelum ayahku tiada aku masih sempat bersekolah walau sampai kelaS 3. Aku bersyukur masih bisa membaca dan berhitung sekedarnya.

Keseharianku membantu emak memulung, dan jika sudah siang aku membantu di sanggar. Di sanggar aku membantu adik adik untuk belajar membaca dan menulis. Walaupun tak dibayar, aku senang melakukan itu. Dan mengajar sepertinya sudah menjadi jiwaku.

perlukah guru harus pandai?
perlukah guru harus mengetahui banyak hal?
aku bodoh, tapi ingin menjadi guru,
mengajarkan yang baik untuk muridku,
dengan segala keterbatasanku.
aku ingin!

Sadar akan keterbatasan kemampuanku dalam mengajar. Tak hentinya aku belajar dan terus belajar. Walau tidak disekolah formal seperti anak seumuranku. Tapi aku belajar dengan terus membaca, apa saja buku yang aku temukan atau yang berada disanggar pasti sudah aku baca.

“bu guru, ini membacanya bagaimana?” tanya seorang anak sanggar.

” ini bacanya ‘semangat’ dik, ayo coba ulangi kata-kata kakak,” teriakku di depan kelas, agar semua dapat mendengar.

” bu guru, ini bacanya apa “nyamuk” ? ” seorang anak bertanya lagi kepadaku.

” benar sekali dik, sepertinya murid kakak sudah pada pintar ya? ” seruku untuk menyemangati mereka.

” iya bu guru, sudah pasti, hehe,” mereka serempak menjawab.

Itulah hiburanku selama ini. Sudah setahun aku mengajar di sanggar ini. Dan yang membuatku senang adalah mereka semua memanggilku bu guru. Suatu julukan yang menurutku adalah gelar kehormatan.

Sempat aku berpikir, apakah aku yang cuma lulusan kelas 3 SD berhak menjadi guru. Berhak berjuluk “bu guru” dan dihormati. Tak perlukah ku harus lulusan sarjana, bergelar S.Pd untuk dapat menyandang predikat bu guru.

Namun semua itulah yang terjadi. Aku bangga dengan apa yang ada pada diriku sekarang. Memulung, mengajar dan belajar setiap hari tanpa lelah, tanpa mengeluh dalam hatiku ini.

Hebat,
Ya aku ingin menjadi hebat,
Membanjiri diriku dengan buku,
Menyerap ilmu yang berserakan,
Dan melemparkannya ke muridku,
Agar mereka menjadi sehebat aku!

Aku ingin menjadi wanita yang hebat, wanita yang bersinar dan berguna dilingkunganku. Biarlah aku tetap mengabdi, menjadi Bu guru yang dihormati muridku.

Mimpiku hanya satu. Aku hanya ingin terus menjadi guru di sini, di tempat yang kotor ini. Aku ingin membuat celah agar keterpurukan ini perlahan menghilang. Dan berganti sinar keemasan. Aku yakin aku bisa, aku adalah wanita hebat, aku adalah anak emak!

” Berkaryalah Wanita Indonesia ”
Selamat Hari Kartini

Salam Blogger!