Cerita terinspirasi dari kisah sahabatku, semoga dapat dipetik hikmahnya.

“ Don, awas bolanya,” Indra meneriaki sahabatnya untuk menghindar dari hantaman bola basket yang datang ke arah kepalanya.

“ jdukk,” suara bola begitu keras mengenai muka Dony.

Tak disangka-sangka Dony pingsan karena kerasnya bola yang mengenai mukanya. Sontak semua anak-anak yang saat itu sedang bermain basket langsung bergotong-royong mengangkat tubuh Dony untuk dibawa ke poliklinik kampus. Di poliklinik dengan sigap dokter jaganya melakukan perawataan agar Dony cepat siuman. Sekitar setengah jam kemudian Dony mulai siuman dari pingsannya.

“ woy bro, sudah sadar kamu? Apa kepalamu masih sakit? ” tanya Indra sembari merapikan tas olahraga milik Dony.

“Apa aku pingsan cukup lama? Sudah tidak sakit lagi kepalaku” jawab Dony sambil memegangi kepalanya.

“ kalau sudah tidak sakit lagi, ayo kau ku antar pulang kos mu,” sambil membawa dua tas olahraga miliknya dan milik Dony.
Akhirnya mereka berjalan menuju parkiran motor, dan Indra mengambil motornya. Diboncengnya Dony dan diantar pulang ke rumahnya. Sesampainya di kos Dony, Indra lalu memapah tubuh Dony sampai kekamarnya.

“ oiya bro, kapan itu aku mau curhat sama kamu, tapi belum kesampaian sampai sekarang,” Indra memulai pembicaraan yang agak serius.

“ memang ada apa Ndra? Kok sepertinya sangat serius? ” tanya Dony sambil menaikkan salah satu alisnya.

“ hehe, bukan hal yang penting sih bro. Aku lagi naksir sama si Siska teman sekelasmu itu lo,” jawab Indra dengan nada pelan dan wajah malu.

Singkat cerita Indra dengan panjang lebar menceritakan tentang awal dia suka. Kenapa dia suka dengan Siska dan dia inginberpacaran dengan gadis itu. Sehingga ia meminta bantuan Dony untuk mempertemukan mereka. Setelah beberapa kali Dony mempertemukan mereka berdua, mereka berpacaran juga.

Semua berjalan dengan lancar selama beberapa bulan. Bahkan kadang mereka bertiga main bersama-sama. Tidak tau kenapa setiap Indra bercerita tentang Siska, hati Dony menjadi sedikit sakit. Kadang dia merasa cemburu sendiri dengan Siska jika Dony lebih memilih jalan dengan pacarnya ketimbang dengan dirinya sendiri.

Dony menganggap hal itu wajar saja, mungkin waktunya bermain basket ataupun sekedar hangout dengan Indra semakin berkurang akibat Indra sudah memiliki tambatan hati yang sangat disayanginya. Namun lambat laun rasanya itu semakin menjadi-jadi. Tak tahu rasa apa yang terjadi pada dirinya ke Indra. Yang jelas sekarang dia menjadi ketergantungan dengan Indra, tak jarang mereka bertengkar hanya karena Indra tidak bisa datang untuk latihan basket ataupun ngopi bareng di angkringan.

Tuhan apakah aku jatuh cinta kepada sahabatku itu? Kenapa aku begitu tidak bisa jauh dengannya? Apa yang harus kulakukan Tuhan? Berikan aku petunjuk dengan masalah ini.

Tak hentinya Dony berdoa setelah dia melaksanakan ibadahnya. Ia begitu tidak percaya akan apa yang terjadi dengannya. Mengapa dia memiliki rasa yang aneh terhadap sahabatnya itu. Padahal awalnya dia bukanlah seorang gay. Namun kenapa cinta terlarang ini justru tumbuh dan menggerogoti setiap mili ruang hatinya.

Sakit, sakit dan sakit yang dia rasakan setiap harinya melihat sahabatnya semakin akrab dengan Siska. Bahkan dikabarkan akhir semester ini mereka akan bertunangan dan menikah saat mereka lulus kuliah. Perlahan-lahan Dony mulai menjahui Indra dengan harapan dia dapat melupakan rasa sayangnya kepada Indra.Namun percuma, dia semakin menyakiti dirinya sendiri dengan apa yang dia lakukan.

Sering sekali Indra menanyakan kenapa akhir-akhir ini dia aneh, dan agak menghindarinya. Dony hanya menjawab sekenanya saja, dengan berbagai alasan agar Indra tidak mencurigainya bahwa dia memang menghindarinya.

— dua tahun kemudian —

Dua tahun telah berlalu, berbagai kejadian sudah terjadi. Dari yang senang sampai yang duka menghinggapi persahabatan Dony dan Indra. Dony sudah tidak lagi menghindari Indra, karena dia tahu yang ia lakukan justru akan mennghancurkan hatinya sendiri, dan juga membuat sahabatnya sedih. Ia biarkan rasa sayangnya kepada Indra berkembang tak terkendali, walau dia tetap menjaganya agar jangan sampai ketahuan. Karena ia tidak ingin persahabatannya hancur hanya dengan rasa sayangnya yang tak wajar itu.

Tak terasa besok adalah hari yang paling ditunggu oleh semua mahasiswa. Hari mereka di wisuda sebagai seorang sarjana. Dimana selama 4 tahun mereka berjuang mati-matian dan berhasil menyambet gelar sarjana.

“ Ndra apa kita bisa bertemu sebentar,” tanya indra memulai pembicaraan di telepon.

“ Oke bro dimana? ” tanya Indra dengan antusias.

“ di lapangan basket saja Ndra,” Dony menjawab dengan cepat lalu memutus sambungan teleponnya.

Di lapangan basket Dony sudah duduk di bangku dipinggiran lapangan. Lalu Indra menyusul kesana dan duduk disampingnya. Dony Cuma menunuduk saja tak melihat ke wajah temannya yang sudah duduk disampingnya.

“Ndra ayo maen basket untuk terakhir kalinya sebelum besok kita wisuda,” ajak Dony memulai pembicaraan.

“ Oke bro siapa takut,” Indra menyetujui ajakan Dony.

“ Ndra hari ini aku ingin mengalahkanmu dan mengalahkan perasaanku kepadamu,” Dony menjawab dengan cepat dan langsung mendrible bola.

Mereka bermain dengan sangat seru sekali, bahkan mereka tidak sadar jika langit sudah hitam dan malampun datang. Mereka bermain tanpa henti, sampai akhirnya mereka berdua kelelahan dan tiduran di lantai lapangan basket dengan peluh membasahi mereka.

“ Ndra aku memang tidak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam urusan bermain basket, namun aku akn berusaha mengalahkan perasaanku kepadamu sahabatku,” Dony berkata sambil ngos-ngosan mengatus nafasnya.

“ Perasaan bagaimana bro maksudmu? Aku tidak mengerti maksudmu?” Indra tidak paham akan apa yang Dony ucapkan.
Dony berdiri membelakangi indra lalu menunjuk ke tengah lapangan sambil bercerita. Dari tempatnya berdiri dia selalu mengamati Indra bermain basket. Dari sirulah timbul perasaan aneh yang membuatnya menyayanyi sahabatnya itu.

“ Ndra maafkan aku ya, aku memang bukan seorang sahabat yang baik buatmu. Aku telah merusak persahabatan kita dengan menyayangimu. Itulah yang aku lakukan selama dua tahun ini kepada mu,” Dony bercerita tanpa berani menatap Indra, sambil air amatanya mulai menetes.

“ Jadi selama ini kau suka kepadaku Don?” tanya Indra masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“ Iya Ndra, maafkan atas apa yang telah aku lakukan. Kau boleh membenciku mulai dari sekarang. Aku tidak akan pernah bisa membencimu walaupun sekarang kau menghajarku sampai semua tangan kakiku patah,” Dony masih tidak mau menghadap ke Indra.

“ tapi Don, bukankah selama ini kau temanku saat curhat. Bahkan aku menceritakan apa saja tentang Siska kepadamu,” Indra bangkit dan berdiri disamping Dony.

“ iya Ndra, memang aku selalu sakit jika kau tiada henti menceritakan Siska. Untuk mengobati lukaku itu maukah kau memelukku sekali saja. Setelah itu aku akan pergi dari kehidupanmu dan memulai kehidupanku yang baru,” Dony mulai mentap Indra.

Indra memeluk tubuh Dony pelan, di situlah Dony menangis sekencang-kencangnya meluapkan rasa sakitnya selama ini. Indra hanya bisa diam tak berbicara sama sekali. Lalu Dony membisikkan kata-kata ke Indra.

“i’m sorry i love you my best friend. I promise i will kill this love. Thanks for everyting.”

Setelah wisuda Dony menghilang tanpa berpamit kepada Indra. Bahkan tidak seorangpun yang tahu dimana Dony berada, termasuk sahabat sekelas Dony. Dony benar-benar menghilang dan berniat membunuh perasaannya terhadap Indra.

— 7 tahun kemudian —

“ ayah aku dibelikan eksrim oleh om itu,” teriak anak kecil berumur 3 tahun kepada ayahnya.

“ dimana kau bertemu dengannya anakku? Kau tidak minta dibelikan kan?” selidik sang ayah kepada anakanya.

“ orang mana yang membelikanmu eskrim nak? Biar ayah ganti uangnya nanti, ” tanya ayahnya lagi.

“ itu yah yang duduk di bangku taman, bersama tante dan anaknya”, anak itu menunjuk ke arah orang yang membelikannya eskrim.

Orang iru langsung bangkit mendekati Dony dan anak semata wayangnya. Dony hanya terdiam melihat seseorang yang mendekat. Orang itu tersenyum lebar kepada Dony. Dony masih tidak mengenali orang itu. Orang yang menggandeng anak, yang mendekat kearahnya.

“ Don, apa kau lupa denganku?” Indra memulai menyapa.

“ In n n dra? Kaukah itu?” Dony masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

“ Wah payah sekali ingatanmu, bahkan aku bisa megenali ini anakmu karena wajahnya sangat mirip denganmu. Anak cakep siapa namanya?” Indra bertanya sambil mencubit pipi putra Dony.

“ Nama saya Indra Prasetya om”, anak Dony menjawab dengan lantang.

“Hay Indra, nama aku Dony Suherman, salam kenal ya,” anak Indra berkenalan dengan anak Dony.

“ Don, apapun yang terjadi di masa lalu biarlah begitu. Aku sama sekali tidak membencimu, karena kau sahabat terbaikku. Bahkan sengaja putraku ku beri nama yang sama dengan nama depanmu agar aku tidak pernah melupakan, jika aku punya sahabat terbaik semasa kuliah yang bernama Dony,” Indra memulai berbicara.

“ Jujur saja Ndra aku belum bisa mengalahkan perasaanku kepadamu, namun karena Indra putraku, semua rasa sayangku kepadamu luluh hanya untuknya saja. Hanya untuk Indra kecilku sayangku sekarang bermuara,” Dony menjawab perkataan Indra.

“Don, selama ini kau kemana? Aku dan Siska mencarimu kemana-mana tetap saja tidak bisa bertemu denganmu,” Indra bertanya dengan nada yang lemas.

“Aku berpetualang ke penjuru negeri ini sahabatku, mencari jati diriku yang entah hilang kemana, sebelum akhirnya empat tahun lalu aku bertemu seorang wanita baik yang membuatku bisa melupakan sayangku padamu, walah tak sepenuhnya hilang,” Dony menjawab dengan senyuman.

“ Tidakkah kau merindukan saat kita bermain basket sahabatku?” Indra bertanya kepada Dony.

“ Aku sekarang menjadi guru basket, itu semua kulakukan untuk mengobati rasa rinduku kepadamu dan rindu bermain denganmu, aku bisa hidup normal seperti ini karena aku pernah menyayangimu, sahabat terhebat yang aku punya selama ini”, Dony tersenyum lebar memandang Indra.

“ Maukah kau mengalahkanku dalam bermain basket? Kau sudah menang dengan perasaanmu? Tak bisakah kau mengalahkanku dalam bermain basket? Indra menantang Dony bermain basket.

“ Itu impianku yang tertunda sahabatku, ayo kita bermain basket,” Dony menarik tangan Indra menuju lapangan basket.

Cerita ini kupersembahkan untuk temanku, semoga jalan lurus yang kau pilih akan memberikan perubahan pada dirimu. Pesanku hanya satu, cintailah istri dan anakmu kelak, kalahkan perasaan aneh pada dirimu. Aku yakin kamu bisa.

Cerita pendek ini diikutkan kuis Seperti Janji Kita yang diadakan oleh mbak Yessi Greena

Salam Blogger!