Ponselku mendadak berdering saat aku sedang bercinta dengan indahnya skripsi. Ku lihat siapa gerangan penelponnya, ternyata Rizky, murid les privat matematikaku.

“Assalamualaiku ky” tanyaku pelan dengan nada agak serius.

“Waalaikumsalam mas, eh pak guru” candanya saat memanggilku.

“Ada apa kamu telpon mas? Ada PR yang tidak bisa?” tanyaku mencoba memulai pembicaraan.

“Tidak ada PR kok mas, cuma mau ngomong dengan kamu saja” jawabnya agak gugup, entah bingung apa yang sedang ia pikirkan.

“Yasudah, kamu mau bilang apa ke mas?” tanyaku menyelidiki, sebenarnya ada apa dengan anak ini, kok aneh tidak seprti biasanya.

“先生、君が好き ( sensei, kimi ga), dengan nada yang pelan dikatakanlah apa yang ada di pikirannya atau entah yang ada dihatinya.

“Apa dek? Kamu bilang apa?” Ku memperjelas apa yang dia katakan.

“Terima kasih, mas guru” dengan secepat kilat dia menutup.

Dalam diam aku berfikir, dan masih belum menemukan jawaban pertanyaanku. Apa yang telah aku lakukan ke dia, sehingga dia sayang aku. Muridku sayang kepadaku?

Mengungkapkan rasa sayang kepada orang yang kita sayang. Apakah ada batasan umur, batasan profesi, batasan kasta atau malah batasan jenis kelamin?

Kapan saat berkesan saat sahabat narablog menyatakan sayang?